Berita

Loudy Irwanto Ellias:net

Wawancara

WAWANCARA

Loudy Irwanto Ellias: Saya No Comment Soal Uang Tebusan, Mohon Dimengerti...

SELASA, 03 MEI 2016 | 08:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah 10 ABK-nya disandera kelompok teroris Abu Sayyaf, bos PT Patria Maritime Lines, perusahaan pengangkutan batubara ini, memu­tuskan untuk tidak melewati perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan lagi.

Selain mengungkapkan, kebijakan sementara kantornya, Loudy juga menceritakan sekelumit keterlibatan perusahaannya dalam operasi pembe­basan terhadap 10 pekerjanya. Berikut penjelasan Loudy saat dijumpai Rakyat Merdeka di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, kemarin.

Dalam operasi pembebasan pegawai Anda, apakah perusahaan diikutsertakan dalam proses diplomasi?
Perusahaan menjadi salah satu ang­gota tim di dalam, yang dibentuk oleh pemerintah. Kita bikin satu tim untuk mengatasi hal ini.

Perusahaan menjadi salah satu ang­gota tim di dalam, yang dibentuk oleh pemerintah. Kita bikin satu tim untuk mengatasi hal ini.

Kabarnya pegawai Anda dibe­baskan Abu Sayyaf lantaran peru­sahaan Anda membayar tebusan. Benar seperti itu?

Saya no comment mengenai hal tersebut.

Kenapa?
Karena sampai saat ini memang tidak ada apa-apa mengenai tebusan.

Dari pihak Abu Sayyaf apakah melakukan kontak langsung ke perusahaan?
Ya sempat. Dan kita juga membuat satu tim mengatasi hal ini, karena nggak mungkin satu orang atau satu pihak saja untuk mengatasi hal ini.

Lalu bagaimana perusahaan me­nanggapi permintaan uang tebusan tersebut?

Kita terus berkomunikasi dan men­jamin keselamatan dari kru saja. Itu tujuan kami mengontak. Kita sama, seperti yang dikatakan tadi, visi yang sama yang membuat tim kita jadi solid. Kita berpikir bagaimana kes­elamatan sandera.

Setiap berkomunikasi, apakah perusahaan dijelaskan mengenai kondisi sandera?
Jadi, tiap kali kita kontak, itu pasti kita bertanya bagaimana keselamatan orang kami.

Apa saja informasi yang didapat perusahaan?
Menurut mereka, orang kami diper­lakukan dengan baik.

Berapi kali kontak antara Abu Sayyaf dengan perusahaan?

Wah, setiap hari bisa sekali atau dua kali.

Para penculik juga mengirim gambar mengenai kondisi para sandera?
Kita diberikan kesempatan untuk berbicara (dengan para sandera). Mereka diperlakukan dengan baik.

Selain 10 WNI itu, apakah empat WNI yang diculik belakangan, dari perusahaan Anda juga?
Bukan, sama sekali bukan. Jadi han­ya 10 WNI yang baru dibebaskan.

Masa sih perusahaan nggak ba­yar tebusan?
Saya nggak bisa comment mengenai itu, mohon dimengerti. Kita masih ada PR lagi soalnya.

Maksudnya?
Seperti yang tadi Ibu (Menlu Retno Marsudi) katakan. Masih ada empat WNI yang belum dibebaskan. Jadi masih ada PR lanjutan. Meskipun keempatnya bukan orang kami. Tapi kalau dilihat dari sisi kemanusiaan kan seharusnya tidak melihat dari perusahaan mana. Itu adalah tugas dari Kementerian Luar Negeri.

Saat pertama kali minta tebu­san, berapa jumlah yang diminta penculik?
Waktu itu mereka minta 50 juta peso (sekitar Rp 14 miliar).

Selanjutnya, ke 10 WNI akan tetap bekerja di perusahaan Anda?
Harus dong.

Apa jaminannya?
Hak-hak seperti karyawan biasa akan kami berikan. Dan juga ada seperti kompensasi yang akan kami berikan. Seperti kompensasi ke­manusiaan, karena mereka sudah mengalami hal yang sangat sulit dalam hidupnya, dan itu sangat sulit bagi mereka.

Saat ini perairan Filipina Selatan sudah tidak aman. Apakah kapal-kapal perusahaan Anda akan tetap lewat sana?
Sementara ini kita tidak lewat jalur yang sama. Pemerintah juga kan su­dah menutup, jadi kita tidak melewati jalur situ.

Lalu bagaimana perusahaan Anda kalau mau melakukan pen­giriman barang ke Filipina?
Susah ya. Kalau mau ke Filipina lewat jalur lain agak susah ya.

Artinya, sementara nggak ada pengiriman?

Iya.

Perusahaan Anda rugi dong?
Saya kira kami lebih menguta­makan keselamatan daripada cuma sekadar bisnis. Bisnis bisa didapatkan dari hal lain. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya