Berita

foto :net

Bisnis

PAD DKI Tak Sebanding Pendapatan, Ancol Harus Diaudit Independen

KAMIS, 28 APRIL 2016 | 19:02 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemprov DKI Jakarta dari PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) dipertanyakan.

Pasalnya, dengan perolehan laba bersih lebih dari Rp 1 triliun tiap tahun semestinya PAD DKI dari perusahaan daerah yang sudah go public itu bisa lebih digenjot, tidak sebatas di kisaran Rp 30 miliar hingga Rp 60 miliar.

Laporan terakhir, capaian kinerja PJAA sepanjang tahun 2015 didukung oleh peningkatan pendapatan pokok usaha sebesar 2,73 persen menjadi Rp 1,13 triliun dari Rp 1,10 triliun pada tahun 2014.


"Dengan mayoritas saham dimiliki DKI seharusnya  mendapat deviden besar, tapi dari tahun ke tahun PAD yang diberikan Ancol tidak sebanding dengan pendapatan yang ada," kritik Ketua Umum Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru ( Katar), Sugiyanto di Jakarta, Kamis (28/4).

Untuk kepemilikan saham perseroan, untuk diketahui pemerintah provinsi DKI Jakarta sebesar 72 persen, PT Pembangunan Jaya 18 persen dan kepemilikan masyarakat sebesar 10 persen.

"Ini patut dipertanyakan PAD yang diperoleh tidak sebanding dengan pendapatan Ancol yang ada," tegasnya.

Dari kajian yang dilakukannya, papar Sugiyanto, pendapatan yang besar itu selalu dijadikan dalil PJAA  untuk inovasi maupun pengembangan kawasan. Semisal pembangunan tower-tower apartemen dan wahana baru.
 
Menurut dia, kegiatan-kegiatan itu patut diduga modus untuk 'merampok' duit perusahaan secara sistematis.  

"Kalau tidak ada kegiatan tidak bisa diambil duitnya, harus melalui pengeluaran," terangnya.

Sehingga wajar jika akhirnya menyisakan PAD kecil untuk Pemprov DKI. Karenanya ia menyarankan perlu dilakukan audit independen terhadap kinerja dan keuangan PJAA. Namun audit ini hanya bisa dilakukan atas permintaan Pemprov ataupun DPRD DKI. 

"Ancol ini kan dilindungi UU PT sehingga jika ingin mengetahui kondisi sebenarnya perusahaan harus melalui audit independen, audit swasta sekelas  PricewaterhouseCoopers (PwC)," dorongnya.

"Selama ini belum terdengar ada audit independen terhadap perusahaan Ancol, belum ada," imbuh Sgy, begitu ia disapa.

Renovasi dan pembangunan pesat terjadi di era siapa?


"Di era Budi Karya Sumadi. Renovasi, pembangunan macam-macam," ujarnya.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya