Berita

net

Dunia

PBB Segera Cabut Embargo Senjata Pantai Gading

KAMIS, 28 APRIL 2016 | 05:30 WIB

Dewan Keamanan PBB segera mencabut embargo senjata yang telah berlangsung 12 dialami Pantai Gading, juga akan memperbarui misi pemeliharaan perdamaian PBB selama satu tahun terakhir.

Negara di Afrika Barat itu telah keluar dari krisis selama satu dekade yang memuncak pada perang singkat 2011 dan menjadi negara dengan perekonomian yang terus meningkat. Embargo senjata terhadap Pantai Gading diberlakukan sejak 2004 setelah perang sipil tahun 2002-2003 di negara itu.

Sebuah resolusi yang disusun Prancis akan menghapus embargo senjata serta pembekuan aset dan larangan perjalanan bagi enam orang, termasuk mantan Presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo yang diadili Mahkamah Pidana Internasional untuk kejahatan kemanusiaan.


Pasukan penjaga perdamaian PBB telah dikerahkan di Pantai Gading sejak 2004 dan rancangan resolusi kedua akan memperbaharui misi PBB untuk terakhir kalinya sampai dengan 30 April 2017. Saat ini ada sekitar 6.900 tentara dan polisi PBB di Pantai Gading, menurut situs resmi PBB.

Duta Besar Prancis untuk PBB Francois Delattre menggambarkan Pantai Gading sebagai "kisah sukses" PBB dan mengatakan kedua resolusi PBB akan diadopsi oleh kelima belas anggota Dewan Keamanan PBB pada Kamis.

"Ini adalah bukti bahwa peralatan dewan (DK PBB), baik operasi pemeliharaan perdamaian atau rezim sanksi, memang bisa memberikan hasil, memang bisa menjadi penentu. Dalam membantu negara secara sungguh-sungguh untuk bangkit kembali setelah krisis," katanya seperti dikutip Antara, Kamis (28/4).

Pada 2014, Dewan Keamanan PBB meringankan sebagian embargo senjata terhadap Pantai Gading dan menghapus larangan ekspor berlian, suatu langkah yang menurut ahli-ahli PBB telah gagal menghentikan perdagangan gelap.

Para ahli PBB, yang mengawasi embargo senjata, mengatakan awal tahun ini bahwa pemimpin pemberontak yang berubah menjadi ketua parlemen Pantai Gading Guillaume Soro menggunakan perang saudara 2011 dan dampak perang itu untuk mengakuisisi ratusan ton senjata, yang dalam jumlah besar masih berada di bawah kendali loyalisnya di kelompok militer. [wah]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya