Berita

Jumhur Hidayat: May Day Harus Jadi Perjuangan Kolektif

RABU, 27 APRIL 2016 | 18:36 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. May Day atau Hari Buruh merupakan tonggak perjuangan buruh yang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai. Karena itu dalam setiap May Day, gerakan buruh harus mengungkap permasalahan nyata yang sedang dihadapi.‎

"Jadi May Day harus tetap menjadi perjuangan kolektif, tidak terpecah-pecah oleh kegiatan lain yang substansinya menyimpangkan nilai perjuangan buruh," kata Ketua Umum FSP Maritim Indonesia, Moh Jumhur Hidayat, dalam Dialog Publik Pra May Day yang diselenggarakan Serikat Pekerja Nasional (SPN) di Bogor, Jawa Barat (Rabu, 27/3). 

‎Jumhur menjelaskan bahwa masih banyak orang yang beranggapan buruh itu pekerja kasar. Padahal selain komisaris dan direksi, semua itu adalah buruh. Sedangkan komisaris dan direksi adalah wakil dari pemilik modal. 

‎‎Karena itu Jumhur meminta agar tak ada yang memandang sebelah mata gerakan buruh yang sedang menuntut haknya, karena dengan perjuangan itu para karyawan kantoran pun menerima dampak nyata dalam peningkatan kesejahteraannya. Lebih jauh Jumhur mengungkapkan bahwa ketimpangan Indonesia semakin menjadi-jadi. 

‎‎"Dulu waktu Orde Baru runtuh, tingkat kesenjangan hanya 0,32. Sekarang lebih dari 0,41. Artinya reformasi dalam rangka pemerataan jelas gagal," tegas Jumhur. ‎

‎Diungkapkan Jumhur, rezim pemerintahan ini sudah mirip-mirip Orde Baru. Bahkan pernah ada ide memenjarakan penghinaan terhadap Presiden dan pencemaran nama baik jadi alat bungkam kepada aktivis. Bahkan sekarang inijuga ada 26 buruh yang diadili karena aksinya. 

‎‎Namun Jumhur mengatakan bahwa keadaan sekarang bisa lebih berbahaya karena gerakan rakyat termasuk gerakan buruh bukan berhadapan hanya dengan penguasa yang kala itu notabene militer, tetapi saat ini adalah penguasa yang yang dikendalikan oleh korporasi (pengusaha)  termasuk menggunakan alat negara seperti polisi dan tentara untuk mencapai tujuannya. Dengan begitu, kekuasaan bisa menjadi liar. 

‎‎"Kasus penggusuran masyarakat Pasar Ikan dan penguasa yang ketakutan membatalkan reklamasi adalah contoh nyata fenomena ini. Jadi pemerintah yang seharusnya santun dan sopan kepada rakyat sekarang malah membungkuk-bungkuk kepada pengusaha dan pemodal. Sementara kepada rakyat semakin bengis walau tidak harus berwajah bengis," demikian Jumhur.  

‎Dalam dialog ini hadir juga  sebagai pembicara Iwan Kusmawan (Ketua Umum SPN) dan Ribut Santoso (Ketua Litbang). Sementara peserta dialog adalah pimpinan SPN dari Kab/Kota Bogor, Sukabumi depok dan Bekasi yan akan memimpin aksi May Day mendatang.‎ [ysa]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya