Berita

Yang Mendua Terhadap Ahok, Masih Banyak ?

Taufik Ruki (ex Ketua KPK) "Pasang Badan"
RABU, 27 APRIL 2016 | 14:05 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

SIMPUL-simpul penting yang berpengaruh dalam kehidupan politik di Indonesia, kata seorang rekan pengamat sangat mudah dibaca. Kalaupun tidak bisa dibaca, minimal dapat ditebak. Misalnya sikap berbagai kekuatan politik terhadap Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama (BTP).

BTP, pria keturunan Tionghoa dan pemeluk Kristen Potestan, agama minoritas di Indonesia, digadang-gadang ditentang banyak kalangan untuk menjadi cagub dalam Pilkada DKI 2017. Satu diantaranya PDIP.

Penentangan atau lebih tepat disebut penolakan oleh partai peraih suara terbanyak dalam Pileg 2014 ini, tentu saja menarik. Penolakan dianggap sebagai sebuah hal yang cukup menentukan - terpilih tidaknya BTP di Pilkada 2017.


Sebab kalau ditinjau dari sisi chemistry (kimiawi), terutama filosofi kebhinekaan, hanya dengan PDIP politisi asal Bangka Belitung itu bisa bersenyawa dengan baik. Selain itu pasangan BTP di Pemda DKI, Djarot, merupakan kader senior PDIP. Pertanyaannya, lalu mengapa PDIP justru menolak BTP ?

Semakin menarik, jika melihat rekam jejak politik BTP. Dia sebelumnya sudah 'pecah kongsi' dengan Partai Golkar dan Partai Gerindra. Ini berarti dalam kiprah politiknya - secara psikologis, BTP memerlukan lembaga (politik) baru yang bisa dijadikannya sebagai 'tiang penyanggah'.

Namun sejak BTP menyatakan tekadnya ingin menjadi Gubernur Jakarta dengan mencalonkan diri lewat Jalur Independen, sikap PDIP berubah. PDIP seperti tersinggung atau merasa diremehkan kekuatan dan pengaruhnya oleh BTP.

Demikian seriusnya ketersinggungan itu, hingga membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dikabarkan marah terhadap BTP. Hanya saja amarah itu harus dia pendam.

Megawati dikabarkan sempat memerintahkan seluruh anggotanya agar berupaya menggagalkan usaha BTP terpilih kembali selaku gubernur dalam Pilkada 2017. Walaupun pada akhirnya, perintah itu dianulir kembali.

Selain itu, Ketua DPRD DKI Jaya, Edi Prasetyo yang juga berasal dari PDIP, diberi teguran agar meralat ucapannya yang menyebut BTP melakukan "de-parpolisasi" - sikap menisbihkan peran partai politik.

Yah, apapun alasannya, yang jelas antara BTP dan PDIP sempat mencuat sebuah persinggungan.

Tak lama setelah perseteruan tersebut, BTP dikabarkan menemui Megawati dalam sebuah acara peluncuran buku. Padahal BTP, konon, tidak diundang oleh panitia. Ia sengaja menyambangi Presiden ke-5 tersebut.

Kehadiran BTP selaku Gubernur DKI di acara yang dihadiri pimpinan puncak PDIP itu, kemudian memunculkan berbagai spekulasi. Bahwa BTP dan PDIP sama-sama sadari saling membutuhkan. Sebab bahasa tubuh yang diperlihatkan Megawati tidak mengesankan bahwa dia sangat marah terhadap BTP. Sangat berbeda dengan bahasa tubuh yang diperlihatkan Megawati terhadap SBY.

Kesimpulan sementara, BTP tidak mungkin mengabaikan PDIP. Sementara PDIP pun kontra produktif jika menggagalkan pencalonan BTP.

Soalnya, kalaupun BTP terpilih, dia tak mungkin mengabaikan suara mayoritas PDIP di DPRD DKI Jaya. Sementara sebaliknya sejauh ini, PDIP tidak punya stok kader yang setara dengan BTP.

Seandainya BTP gagalpun, BTP semakin membutuhkan PDIP. Yang diperlukan PDIP dari BTP adalah jaringannya di kalangan komunitas Tionghoa.

Bagaimanapun, PDIP tidak bisa melupakan begitu saja peran dari jaringan komunitas Tionghoa yang berhasil memperkuat posisi tawar sampai akhirnya PDIP berubah status. Dari partai oposisi menjadi partai pemerintah. Kejadian di tahun 1999 ini berulang kembali di Pilpres 2014. Selama 32 tahun PDIP menjadi partai bonsai. Boleh tumbuh tapi tak boleh besar.

Baru setelah ada sumbangan dana dari sejumlah anggota komunitas Tionghoa, PDIP secara perlahan berubah menjadi partai yang bisa tampil.

PDIP misalnya pernah menjadilkan Murdaya Poo, politisi keturunan Tionghoa selaku Bendahara Umum. Artinya Poo sebagai konglo, punya kewajiban menalangi berbagai kekurangan dana PDIP. Walaupun belakangan Murdaya dipecat PDIP akibat sikapnya yang 'mendua'. Satu kaki, lewat isterinya Hartati Murdaya, berada di Partai Demokrat.

PDIP juga memiliki sejumlah kader keturunan Tionghoa. Bahkan PDIP menjadi partai yang memikat pemilih warga keturunan di Pemilu Reformasi 1999, antara lain karena faktor kehadiran Kwik Kian Gie (KKG).

Yang terakhir ini menjadi semacam magnet sekaligus penjamin. Ia juga sempat mau dicalonkan oleh PDIP sebagai Ketua MPR-RI periode 2004-2009. Tapi KKG menolak.

Belum lama ini PDIP sudah melakukan penjaringan siapa yang akan dicalonkan selaku pesaing BTP di Pilkada 2017. Namun naga-naganya, penyaringan ini, bakal tidak menjadi acuan PDIP. Sebab siapapun yang dicalonkan melawan BTP, agaknya sulit bisa menang. Sehingga lebih baik PDIP memberi dukungan kepada BTP. PDIP bisa menelan rasa malu jika salah strategi melakukan penjegalan terhadap BTP.

Hampir sejalan dengan PDIP yaitu Partai Amanat Nasional (PAN). Baru-baru ini, pendiri PAN, Dr.Amien Rais mengeritik BTP dalam berbagai hal. Intinya, Rais menilai, BTP tidak punya potongan untuk menjadi Gubernur DKI.

Tapi kritikan itu menjadi kurang kuat karena sebelumnya Ketua Umum PAN, Zulfikli Hasan yang merupakan besannya Amien Rais, justru sudah mengindikasikan dukungan parpol itu kepada BTP selaku calon Gubernur.

Ini menunjukkan, setidaknya sudah ada dua parpol yang sikap politik mereka terhadap BTP, mendua.

Di luar itu, juga terjadi sikap yang sama. Sikap mendua. Yang dimaksud adalah Taufikurachman Ruki, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ruki atau TR hingga pekan lalu dikenal sebagai tokoh penggagas gerakan untuk menggagalkan pencalonan BTP menjadi Gubernur DKI.

Gagasan TR sudah dituangkan oleh para pendukungnya dengan cara mencetak kaos bertulisan "Mari Boeng Reboet Kembali" (MBRK). Tujuan MBRK mengembalikan kepemimpinan daerah di Jakarta kepada putera asli Indonesia.

TR oleh gerakan yang diinisasi Hatta Taliwang, mantan anggota DPR RI dari PAN, bahkan sudah mempersiapkan TR sebagai calon gubernur DKI. Alasan utama memilih TR, karena sebagai jenderal polisi yang sudah dua kali menjadi Ketua KPK, TR dipandang sosok yang tidak korup.

Dan untuk melawan BTP hanya tema itulah, orang bersih atau tidak korup yang efektif mengalahkan BTP.

Sejumlah pertemuan untuk memperkuat TR menjadi pesaing BTP digelar. TR memang belum secara eksplisit atau resmi menyatakan siap menjadi cagub. Antara lain karena faktor usia (70 tahun).

Tetapi pekan ini, TR mendua bahkan bisa disebut 'balik badan ataun pasang badan'. TR bersama eks pimpinan KPK menolak undangan Komisi III DPR RI, yang ingin meminta penjelasan. Mengapa KPK di era kepemimpinan TR meminta BPK melakukan audit investigasi atas jual beli Rumah Sakit Sumber Waras ?.

Begitu SMS tentang ketidaksediaan eks pimpinan KPK (TR dan kawan-kawan) beredar secara viral, berbagai kritik dan sindiran terhadap TR pun merebak.

TR terkesan tidak terpengaruh atas kritikan terhadap sikapnya yang 'mendua'. Sementara di grup WAG-nya hanya satu anggota yang membelanya secara eksplisit.

Yah sikap TR ini menambah daftar tentang siapa saja yang sikapnya terhadap BTP, mendua.

Dalam arti, politik tentang Pilkada DKI, memang sepertinya masih seperti mata uang. Punya dua sisi.

Artinya, melihat mata uang itu harus dari dua sisi. Maknanya tidak semua yang anti, menolak atau menentang pencalonan BTP pada saat ini, bisa dijamin, akan tetap konsisten. Perubahan sikap dapat terjadi oleh banyak faktor.

Boleh jadi kalangan yang sudah memihak BTP sejak awal barulah kalangan Polri dan TNI. Pemihakan ini pun bukan terjadi tanpa alasan dan sebab musabab.

BTP misalnya membangun sebuah kantor Polisi Air di kawasan Jakarta Utara. Sampai-sampai Kapolda Metro Jaya pada waktu itu, Irjen Pol Tito Karnavian menyampaikan terima kasih kepada Gubernur BTP dalam bahasa Manadarin : "Xie, Xie, Xie, Kamsia..."

Sementara kalau dengan TNI, bisa dilihat dari sumbangan Gubernur BTP berupa sejumlah sepeda motor kepada pasukan Kodam Jayakarta.

Oleh karena itu cukup menarik untuk memantau bagaimana perkembangan sikap politik dari berbagai kalangan terhadap BTP. *****

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya