Berita

agus martowardojo/net

Bisnis

Agus Marto: Tax Amnesty Bisa Jadi Pembiayaan Alternatif Pembangunan Nasional

SENIN, 25 APRIL 2016 | 14:30 WIB | LAPORAN:

. Komisi XI DPR tengah membahas RUU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dengan mitra kerja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/4).

Hadir dalam rapat itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Hadad dan Gubernur BI, Agus Martowardojo.

Agus menilai, di tengah perekonomian global dan domestik yang masih lemah, dana yang akan masuk jika Tax Amnesty diberlakukan dapat menjadi pembiayaan alternatif dalam pembangunan nasional.


Apalagi sejauh ini pemerintah menargetkan penerimaan pajak 2016 tumbuh 24,7 persen atau naik Rp 300 triliun dari penerimaan pajak tahun 2015.

Target pajak yang sedemikian besar, lanjut Agus, memaksa pemerintah untuk melakukan penghematan. Karenanya, perlu upaya untuk meningkatkan sumber pendapatan negara terutama dari sektor pajak.

"Pada 2015 penerimaan pajak 83,3 persen dari target pemerintah. Maka memaksa pemerintah menghemat belanja dan penghematan pembiayaan dari defisit jadi 2,6 persen dari target APBN yang sebesar 1,9 persen," katanya.

"Dalam konteks ini pengampunan pajak bisa menjadi alterntif dalam upaya pembangunan," lanjut Agus menambahkan.

Peran pajak sebagai sumber pendapatan negara, sambungnya, masih terbatas. Hal ini tercermin pada tax ratio (rasio pajak terhadap APBN) hingga 2015 hanya sebesar 11,75 persen atau lebih rendah dari dibanding tax ratio Indonesia berdasarkan estimasi IMF yang sebesar 21,5 persen.

Menurutnya kebijakan pengampunan pajak juga bermanfat sebagai investasi dalam negeri.

"Kalau diikuti dalam sistem dan administrasi perpajakan bisa meningkatkan tax ratio dan penerimaan pajak sehingga bisa menopang pembangunan ekonomi," tukas Agus. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya