Berita

Nusantara

Walikota Jakut Akui Tuduhan Menjurus Fitnah Dari Ahok Sangat Menyakitkan

SABTU, 23 APRIL 2016 | 13:13 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Walikota Jakarta Utara, Rustam Effendi, menumpahkan isi hatinya setelah kemarin dituduh sebagai pendukung bakal calon gubernur Yusril Ihza Mahendra oleh atasannya sendiri, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama alias Ahok.

Kemarin, saat rapat membahas penanganan banjir di Balai Kota, Ahok sempat menghardik Rustam Effendi karena tidak segera melaksanakan perintahnya sejak tahun lalu untuk menggusur pemukiman kumuh di kolong Tol Ancol, Penjaringan. Ahok menuduh Rustam "bersekutu" dengan calon rivalnya di Pilgub Jakarta, Yusril Ihza Mahendra.

Rustam Effendi, yang hanya diam saat menerima tuduhan Ahok dalam rapat tersebut, beberapa saat lalu menumpahkan isi hatinya lewat halaman facebook pribadinya. Rustam membuka "curhatan"-nya dengan mengatakan bahwa apa yang selama ini ia kerjakan adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab dari jabatan yang dipercayakan kepadanya. Ia pun menyadari, apa yang ia lakukan sejak dilantik Ahok (2 Januari 2015) belum banyak membawa kebaikan.


Ia pun mengatakan, koreksi atau bahkan kemarahan dari pimpinan adalah suatu kewajaran bagi perbaikan ke depan. Ia menganggap itu sebagai cambuk untuk perbaikan dan tidak pernah sakit hati atas kemarahan pimpinan.

Khusus untuk kebijakan penertiban (penggusuran), ia tegaskan dirinya tidak pernah ragu apalagi takut melaksanakan tugas itu. Hal itu seperti ia lakukan sebelumnya di kawasan Tubagus Angke, Kali Karang, Kali Cakung Lama, Anak Kali Ciliwung Ancol, Lokalisasi Kalijodo, Pasar Ikan dan beberapa tempat lainnya.

Hanya saja dalam penertiban yang menyangkut orang banyak, ia bertindak ekstra hati-hati, dengan perhitungan matang dan harus terkoordinasi dengan unit terkait dan melalui pengkondisian secara baik.

"Satu hal yang menjadi kunci dalam penertiban/pembongkaran pemukiman adalah ketersediaan dan kelayakan Rumah Susun sebagai tempat relokasi penghuni/penduduk yang akan ditertibkan. Ini suatu keharusan yang tidak boleh ditawar," tegasnya.

Dan ia tegaskan, walau berlatar belakang pendidikan di bidang ilmu politik, dan juga berkawan dengan orang politik, namun dengan kesadaran penuh sebagai pegawai negeri ia tidak mau mengaitkan pelaksanaan tugas dengan kepentingan politik golongan tertentu.

"Jadi jika ada yang menilai bahwa saya bersekutu dengan tokoh politik ataupun bakal calon Gubernur/Wakil Gubernur dalam Pilkada DKI Tahun 2017 saya nyatakan tidak benar dan tidak beralasan sama sekali. Dengan ini saya nyatakan bahwa tuduhan saya bersekutu dengan Pak Yusril adalah tidak benar," katanya.

Rustam pun mengatakan, ia sebagai bawahan terkadang ingin mendapat pujian dari atasannya. Namun, jika pujian pun tidak didapatkannya, ia berkomitmen akan tetap bekerja keras.

"Berbeda dengan tuduhan yang menjurus fitnah apalagi keluar dari mulut pimpinan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Dan lebih menyedihkan tuduhan dan fitnah itu keluar dari pimpinan yang sebenarnya saya berharap memberikan petunjuk, arahan, bimbingan, memotivasi, memberi semangat, dan itu dipertontonkan di muka jagat raya," katanya.

"Apakah ini yang disebut bekerja dengan hati? Wallahu Khairul Makiriin," tutup Rustam. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya