Berita

Bisnis

Dorong BLK dengan Country Partner Untuk Profesionalisme Tenaga Kerja

SELASA, 19 APRIL 2016 | 16:00 WIB | LAPORAN:

Salah satu upaya percepatan peningkatakan tenaga kerja profesional Indonesia dilakukan dengan cara memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK) dan Politeknik.

Saat ini pemerintah gencar memasifkan BLK dan Politeknik yang skalanya masih relatif kecil.

Anggaran Rp 44 triliun atau 10 persen dari total anggaran pendidikan sebesar Rp 412 triliun dialokasikan untuk pembiayaan percepatan peningkatan tenaga kerja Indonesia profesional.


Langkah lainnya, ungkap Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli, akan ada "country partner" di setiap BLK yang ada. Negara-negara partner nanti menyediakan trainer dan instruktur pelatihan kerja, serta peralatannya.

"Misalnya kerjasama dengan Jerman. Mereka yang siapkan semuanya," kata Rizal di kantornya, Selasa (19/4).

Selain itu, akan dijalin juga kerjasama dengan asosiasi perusahaan atau korporasi, dimana korporasi terlibat langsung melatih tenaga kerja di BLK agar profesional.

"Misalnya denga mercy (Mercedez Benz), BMW dari Jerman,  dari industri mereka langsung infrastrukturnya dan peralatannya," imbuh Rizal.

Rizal menekankan hal ini sangat penting jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang unggul.

"Kita tidak mungkin jadi bangsa unggul kalau kompetensinya rendah," tegasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menteri Hanif Dhakiri menjelaskan kerjasama BLK dengan negara-negara lain atau korporasi sudah ada di Indonesia, namun harus lebih masif lagi dilakukan. Penambahan perlu dilakukan untuk percepatan tenaga kerja profesional Indonesia.

Di Kabupaten Serang, Banten,  sudah ada BLK bantuan dari Austria. Sedangkan di BLK di Kupang, milik provinsi Kupang, dimanage oleh perusahaan toyota. Standar kompetensinya disesuaikan oleh korporasi.

"BLK akan kita dorong jadi masif.  Kita bnyak kerjasama dg negara yg maju. Sudah jalan (metode) ini. Agenda penting kita mendorong bisa ada masifikasi cara ini," ujar Hanif.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya