Berita

ilustrasi/net

Bisnis Dan Konservasi Bisa Berjalan Seiring

JUMAT, 15 APRIL 2016 | 07:36 WIB | LAPORAN:

. Perusahaan sawit kelompok usaha Artha Graha Network, PT. Pasifik Agro Sentosa (PT. PAS), membuka rahasia bagaimana perusahaan itu tidak hanya mengejar profit, tetapi tetap memperhatikan lingkungan hidup dengan melakukan konservasi

"Sejauh pengalaman kami di PT PAS kepentingan bisnis dan konservasi dapat berjalan seiring," kata Kent Dixon, yang mewakili PT PAS pada forum yang diselenggarakan dalam kaitan 6th Indonesia Climate Change Education Forum & Expo di Jakarta, Kamis, (14/4).

Dalam forum yang dipandu oleh mantan Menteri Lingkungan Hidup Erna Witoelar itu,  PT PAS mempresentasikan model bisnis sawit yang berkelanjutan dan upaya-upaya konservasi alam yang mereka lakukan. PT PAS merupakan perusahaan sawit yang berbasis di Kalimantan Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.


Kent Dixon menjelaskan alasan mengapa bisnis bisa berjalan seiring dengan konservasi. Antara lain karena pengelolaan sawit PT PAS sesuai dengan prinsip 3 P (People, Planet, dan Profit), yang berarti mengutamakan pengembangan masyarakat, perlindungan lingkungan dan mendukung pencapaian profit.

Melalui prinsip atau pilar people, planet and profit itu, maka perusahaan menekankan pentingnya tanggung jawab sosial terutama untuk masyarakat di sekitar PT PAS.

PT Pasifik Agro Sentosa mendapat izin pengelolaaan perkebunan sawit seluas sekitar 40 ribu hektar di Kalimantan Barat. Perusahaan yang tergabung dalam grup perusahaan Artha Graha Network itu memutuskan mengorbankan sekitar 10 ribu hektar untuk kegiatan konservasi hutan.

PT PAS telah mengantongi sejumlah sertifikasi internasional termasuk RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil), ISCC (International Sustainable Carbon Certification), dan ISO.

Maria Edna, seorang konservasionist dari Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung Barat juga menyampaikan paparan mengenai strategi di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Bagian Selatan itu.

Daerah ini dikenal sebagai daerah yang memiliki populasi harimau tertinggi di Asia Tenggara dan pada tahun 2014, TWNC menerima penghargaan dari Panthera sebagai kawasan konservasi harimau terbaik di Sumatera.

Indonesia Climate Change Education Forum and Expo 2016 diikuti oleh berbagai kalangan di antaranya kementerian, pemerintah daerah, perusahaan BUMN, perusahaan swasta, organisasi lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat.

Pameran dan forum edukasi pada hari pertama banyak dihadiri oleh siswa sekolah dari berbagai wilayah juga beberapa mahasiswa. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya