Berita

M Mahendradatta:net

Wawancara

WAWANCARA

M Mahendradatta: Kasus Almarhum Siyono Menoreh Lembaran Gelap Pemerintahan Jokowi

SELASA, 12 APRIL 2016 | 08:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Hasil autopsi jenazah Siyono, versi tim dokter forensik Muhammadiyah yang resmi dibuka secara lengkap dalam konfe­rensi pers di kantor Komnas-HAM kemarin, berbeda dengan rilis yang disampaikan Polri.

Pertama, hasil autopsi jenazah terduga teroris Siyono memper­lihatkan patah tulang di lima iga bagian kiri, patah satu iga bagian kanan, dan tulang dada yang patah akibat benda tumpul di rongga dada mengarah ke jaringan jantung.

Tulang dada yang patah itu mengarah ke jantung, sehingga ada jaringan di jantung (terluka) dan mengakibatkan kematian yang fatal.


Selain itu, tim forensik yang diketuai Gatot Suharto itu juga menemukan luka ketokan di kepala, tapi hal itu tidak menyebabkan perdarahan atau ke­matian. Tidak ada tanda-tanda perlawanan atau tangkisan dari Siyono, seperti yang pernah disampaikan Polri. Seperti dike­tahui, kepolisian sebelumnya mengklaim Siyono mening­gal setelah berkelahi dengan anggota Detasemen Khusus Antiteror 88, dan menyatakan Siyono tewas akibat perdarahan di kepala yang disebabkan ben­turan dengan benda tumpul.

Fakta lain, dalam konferensi pers itu juga dibuka dua pa­ket uang sejumlah Rp 100 juta yang menurut mereka diberikan pada istri dan saudara laki-laki mendiang Siyono oleh petugas polisi. Uang itu diserahkan saat keduanya membesuk di tahanan, meski kemudian Siyono sudah meninggal.

Temuan ini, menurut Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta yang juga aktif mengadvokasi kasus kematian Siyono akan mengerek rasa ketidakpercayaan publik pada Polri.

"Akan lebih baik bila Polri beberkan apa kejahatan Siyono, tentunya dengan bukti yg dimili­ki Polri," ujarnya kepada Rakyat Merdeka. Berikut wawancara selengkapnya;

Komentar Anda melihat pengumuman resmi hasil au­topsi hari ini?

Kini hasil otopsi independent terhadap Jenazah Siyono kan sudah dibuka kepada publik. Hasilnya berlawanan dengan release Polri selama ini.

Jika begini, apa pesan Anda untuk Polri dan Densus 88?
Agar tidak memancing opini kebencian ataupun setidaknya keragu-raguan terhadap Polri, akan lebih baik bila Polri be­berkan apa kejahatan Siyono. Tentunya dengan bukti yang dimiliki Polri.

Urgensinya apa?
Supaya jangan dibiarkan Siyono tertuduh untuk selamanya, dikatakan sebagai teroris yang berbahaya seperti yang di-re­lease selama ini.

Pemerintah harus bersikap bagaimana menurut Anda, melihat kejadian seperti ini?
Kasus almarhum Siyono menoreh lembaran gelap dalam sejarah pemerintahan Jokowi, bila tidak segera dilakukan pencegah­an-pencegahan agar hal semacam ini tidak terulang lagi.

Tapi kasus semacam ini kan bukan baru terjadi pada masa pemerintahan Jokowi?

Ingat, Jokowi memenangkan Pilpres (Pemilihan Presiden) melawan Prabowo, karena Prabowo dianggap akan men­jalankan pola-pola kekerasan terhadap rakyat seperti main culik, dan lain-lain.

Kurang elok bila justru pe­merintahan Jokowi menampil­kan atau membiarkan kejadian seperti yang dialami kepada Siyono.

Di satu sisi, mungkin Polri beralasan, Densus 88 mengam­bil langkah seperti ini, karena teroris merupakan extra-ordi­nary crime?

Kalau alasan terorisme kejam, jangan lupa dalam sejarah, setiap rezim selalu punya alasan untuk membenarkan kekerasan terh­adap rakyat yang dilakukannya dan secara temporer diterima publik karena takut.

Contohnya?
Soekarno dengan separatis dan antek Nekolim. Soeharto dengan anti Pancasila dan meng­ganggu stabilitas pembangunan. SBY dengan pemberantasan ter­orismenya yang terus berlanjut sampai sekarang.

Jadi Anda ingin mengata­kan bahwa justru pemerintah dalam hal ini Densus 88 yang meneror rakyat?
Saya belum berani sejelas itu menudingnya.

Setelah temuan hasil autopsi ini, apa langkah selanjutnya yang akan diambil TPM?
Kan kita sudah komit ker­jasama dengan Komnas HAM. Tentunya kami akan mendesak Komnas HAM menjadikan kasus ini dan kasus lain sebagai bentuk pelanggaran HAM berat. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Di Hadapan Eks Menlu, Prabowo Nyatakan Siap Keluar Board of Peace Jika Tak Sesuai Cita-cita RI

Rabu, 04 Februari 2026 | 22:09

Google Doodle Hari Ini Bikin Kepo! 5 Fakta Seru 'Curling', Olahraga Catur Es yang Gak Ada di Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:59

Hassan Wirajuda: Kehadiran RI dan Negara Muslim di Board of Peace Penting sebagai Penyeimbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:41

Ini Daftar Lengkap Direksi dan Komisaris Subholding Downstream, Unit Usaha Pertamina di Sektor Hilir

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:38

Kampus Berperan Mempercepat Pemulihan Aceh

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:33

5 Film yang Akan Tayang Selama Bulan Ramadan 2026, Cocok untuk Ngabuburit

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:21

Mendag Budi Ternyata Belum Baca Perintah Prabowo Soal MLM

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:54

Ngobrol Tiga Jam di Istana, Ini yang Dibahas Prabowo dan Sejumlah Eks Menlu

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:52

Daftar Lokasi Terlarang Pemasangan Atribut Parpol di Jakarta

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:34

Barbuk OTT Bea Cukai: Emas 3 Kg dan Uang Miliaran Rupiah

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:22

Selengkapnya