Berita

ilustrasi/net

Tragedi Pedangdut Irma Bule, Tewas Dipatok "King Cobra"

*) Demi Rp 500 Ribu
MINGGU, 10 APRIL 2016 | 22:31 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

IRMA Bule, pedangdut asal Karawang, Jawa Barat, bukanlah masuk kategori pedangdut papan atas. Itu sebabnya, namanya tidak terkenal.

Dia juga masuk kategori pedangdut yang hanya dibayar Rp. 500,- ribu untuk sekali manggung. Sehingga itu pula yang menyebabkan ia luput dari liputan media-media infotaintment.

Pedangdut kampoeng itu mungkin juga tidak dilirik oleh pengusaha kaya, politisi berjiwa makelar ataupun birokrat korup yang suka mengincer artis-artis terkenal.

Entah karena wajahnya tidak begitu bisa bersaing dengan artis lainnya.

Dari gambar-gambarnya di perpustakaan Google, Irma tidak memiliki kecantikan setara dengan pedangdut Zaskia Goyang Itik (Gotik), Cita Citata dan atau pendangdut senior Ike Nurjana serta Iis Darliah

Kecantikannya, kalah jauh dengan apa yang dimiliki oleh penyanyi Syahrini. Yang saking cantiknya bisa menciptakan penghasilan luar biasa. Punya mobil sport Ferrari dan kalau bepergian ke luar kota, menggunakan Jet Pribadi.

Irma Bule juga sudah bersuami dan dari wajahnya nampak cukup jelas, sang suami bukanlah lelaki yang memiliki postur seperti suami Inul Daratista.

Postur tubuhnya jelas menunjukkan, Irma tidak punya "sex appeal", sebuah elemen dalam tubuh artis wanita yang sering memikat hati dan mata para lelaki hidung belang.

Namun kematiannya pekan lalu, telah mengundang simpati dan empati yang cukup luas dari berbagai strata masyarakat. Termasuk dari masyarakat internasional. Portal asing, ikut menyiarkan video atas kematiannya.

Irma Bule meninggal secara tragis dan mengenaskan. Irma dipatok oleh "King Cobra", ular yang selama ini dia jadikan 'kawan' untuk menggelar pertunjukan. Ular yang dia jadikan mitra untuk mencari kehidupan, mencari sesuap nasi.

Kematiannya menjadi kabar yang memilukan, sebab untuk pertunjukaan yang dia gelar pada hari itu, Irma Bule hanya menerima bayaran sebesar Rp. 500,- ribu. Tarif cukup istimewa. Sebab biasanya Irma Bule hanya menerima honorarium Rp. 250,- ribu sekali pertunjukan.

Sebuah nominal yang kalau disandingkan dengan kehidupan di Jakarta, sangat murah. Sebuah nominal yang bagi artis papan atas di ibukota, hanya untuk sebuah tip.

Menurut kesaksian, begitu Irma jatuh di panggung, pawang ular yang hadir di tempat pertunjukan itu segera mengamankan ular pembunuh. Demikian pula sejumlah kerabatnya berusaha membantu Irma. Mereka meminta Irma untuk mereka bawa ke rumah sakit terdekat.

Tapi Irma menolak. Irma hanya menjawab biarlah dia serahkan hidupnya di tangan Tuhan Allah saja.

Belakangan baru diketahui, Irma lebih memilih bertahan manggung, sebab kalau Irma meninggalkan panggung - sementara kontrak pertunjukannya belum selesai, maka panitia tidak akan mencairkan honornya yang berjumlah Rp. 500,- ribu itu.

Irma bahkan mencoba tampil lagi di panggung. Melanjutkan pertunjukannya yang tersisa.

Tapi kuasa maut berkata lain. Irma kembali jatuh dan dalam beberapa menit kemudian, nafasnya berhenti. Irma Bule meninggal.

Kuat dugaan itu semua terjadi karena racun yang sangat berbisa yang berasal dari "King Cobra" sudah merasuk ke saraf-sarafnya dan merusak semua organ tubuh yang menunjang semua jalur pernafasannya.

Konon, di kota Kerawang, Irma Bule memang dikenal sebagai pendangdut yang ketika disewa untuk bernyanyi, selalu menyertakan ular atau melilitkan ular di tubuhnya. Pertunjukan seperti itu, tiada lain untuk menarik orang yang lebih banyak menonton pertunjukannya.

Cara itu sekaligus menunjukkan, persaingan di antara sesama pedangdut di daerah Karawang sudah demikian ketat.

Sebab kalau tanpa "embel-embel" seperti itu, menyanyi atau berdangdut bersama ular, pertunjukan tak akan banyak dilirik orang.

Kini, jasad Irma Bule sudah beristirahat tenang di salah satu lobang kuburan di pemakaman kota Karawang. Tetapi para penggemar musik dangdut dari seluruh Indonesia, masih terus membicarakannya. Sementara beberapa portal berita manca negara mengunggah video tentang kematiannya.

Tidak ada karangan bunga dari mereka yang bisa dikategorikan sebagai 'pemangku kepentingan'. Katakanlah dari lembaga pemerintah yang mengurus masalah dunia kreatif.

Tidak ada persatuan ister-isteri anggota DPR yang terketuk hati .

Saya yang bukan penggemar musik dangdut, hanya bisa membatin. Peristiwa ini seharusnya dilihat secara profesional dan proprorsional.

Perlu ada penataan yang baik bagi pertunjukan yang menggunakan binatang berbisa. Sebab kenyataan di lapangan, masyarakat yang mencari penghidupan dengan cara menempuh resiko seperti ini, tidak sedikit.

Rakyat yang kejepit kehidupan ekonomi mereka, tak segan-segan memilih pekerjaan yang penuh resiko.

Jadi perlu ada konsep yang baku, misalnya setiap pertunjukan yang menggunakan binatang berbisa atau yang berresiko, harus didampingi oleh tim medis.

Umur manusia di tangan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kematian Irma Bule secara tragis seperti itu tak bisa kita jadikan alasan untuk menyalahkan, DIA, Tuhan Allah.

Kendati demikian, secara manusia, sebagai manusia biasa, saya melihat kepergian Irma Bule secara tragis, menyisakan sebuah fakta dan fenomena. Bahwa manusia di Indonesia saat ini, sudah sangat minim elemen dan cairan kemanusiaannya.

Penglihatan ini disampaikan, karena saya tidak melihat adanya kepedulian ataupun reaksi yang cukup berarti.

Saya tidak melihat ada karangan bunga, apalagi kunjungan pejabat, politisi atau LSM ke rumah duka Irma Bule.

Selamat Jalan Irma Bule. Kepada keluargamu, saya haturkan ucapan turut berduka cita.....Amin. [***]

Penulis adalah jurnalis senior.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya