Berita

humphrey djemat/net

Politik

Mukernas PPP Soroti Ketaatan Pemerintah Dalam Sektor Hukum

KAMIS, 31 MARET 2016 | 11:56 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Musyawarah Kerja Nasional II Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar kepengurusan hasil Muktamar Jakarta telah selesai dilaksanakan, kemarin.

Mukernas PPP yang dilaksanakan dua hari menghasilkan beberapa rekomendasi penting. Bidang penegakan hukum nasional menjadi sorotan PPP pimpinan Djan Faridz ini, terutama soal beberapa keputusan hukum yang diabaikan pemerintah.

"Walau begitu, PPP baik dari Dewan Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Ranting siap mengawal dan mensukseskan seluruh program Nawacita dan revolusi mental yang dicanangkan Presiden Jokowi.  Aspek reformasi sistem dan penegakan hukum serta menjaga keutuhan NKRI yang mandiri dan bermartabat baik dalam bidang politik, hukum, ekonomi dan budaya  ditegakan dan kita akan kawal itu," kata Waketum DPP PPP, Humphrey Djemat, kepada Kantor Berita Politik RMOL.
 

 
Menurut Humphrey, Mukernas yang dihadiri 34 Dewan Pimpinan Wilayah itu adalah jawaban dan sikap konstitusional partai menyikapi perkembangan internal partai dan situasi eksternal yang  berkembang. Yang terpenting dari forum ini adalah menjaga dan memperkokoh keyakinan kader akan pentingnya memahami konstitusi partai.
 
"Rekomendasi Mukernas II PPP ini wajib ditaati oleh seluruh jajaran partai dan menjadi pedoman aksi menghadapi pandangan yang keliru dari pihak-pihak eksternal terhadap PPP," katanya.
 
Rekomendasi yang paling tegas dari Mukernas adalah menolak Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: M.HH-03.AH.11.01 Tentang Perpanjangan Kepengurusan DPP PPP Hasil Muktamar VII Bandung, tanggal 17 Februari 2016.

Dasarnya jelas, Perpanjangan SK Menkumham tersebut merupakan perbuatan melawan hukum sebab bertentangan dengan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 601 K/Pdt.Sus-Parpol/2015 tanggal 2 November  2015 ("Putusan MA 601”)  yang  telah menolak permohonan untuk kembali  ke Muktamar Bandung dimana  secara tegas tercantum dalam halaman 102 Putusan MA 601, yang menyebutkan Muktamar VII Bandung tidak efektif lagi dan tidak mempunyai eksistensi berdasarkan Putusan Mahkamah Partai. Dan dalam Amar Putusannya menyatakan bahwa Muktamar VIII PPP yang diselenggarakan pada tanggal 30 Oktober sampai 2 November 2014 di Jakarta adalah Kepengurusan PPP yang sah
 
"Atas keputusan ini hasil Mukernas menyerahkan kepada tim hukum untuk menuntut pemerintah agar mengesahkan Kepengurusan Muktamar Jakarta sesuai putusan MA Nomor 601 K/Pdt.Sus- Parpol/2015 tanggal 2 November 2015," katanya.
 
Selanjutnya, menolak Muktamar Islah, dengan dasar bahwa muktamar islah merupakan suatu perbuatan melawan hukum karena bertentangan dengan Putusan MA Nomor 601. Amar putusan itu menyatakan bahwa Muktamar VIII PPP yang diselenggarakan pada 30 Oktober-2 November 2014 di Jakarta adalah Kepengurusan PPP yang sah;
 
"Ini juga sebagai peringatan kepada pengurus yang telah mendukung Muktamar Islah tunduk dan patuh  pada kebijakan DPP PPP yang menolak Muktamar Islah, serta wajib taat hukum baik itu pada Putusan  Mahkamah Agung maupun Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Apabila tidak dihiraukan maka patut diberikan sanksi sebagaimana yang diatur dalam AD/ART," jelasnya.
 
Selain itu, kata Humphrey, DPP PPP membuka pintu selebar-lebarnya bagi sahabat-sahabat PPP untuk kembali ke rumah besar umat Islam berlandaskan pada Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 504/K/TUN/2015 dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 601/K/ Pdt.SOS-POL/ 2015, Putusan Mahkamah Partai, dan UU Partai Politik. [ald]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya