Berita

Manullang dan Prof Wu Liang Ping/rm

Dunia

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (2)

Ini Testimoni Relawan Jokowi Yang Lambungnya Dipotong

SENIN, 21 MARET 2016 | 08:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

CHINA sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.

Ada tiga pasien penderita diabetes dan obesitas dari Indonesia yang ditangani Prof Wu Liang Ping di Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine. Saat dijenguk, kondisi ketiganya telah membaik. Bahkan salah satunya, Sihol Manullang, sudah bisa turun dari ranjang dan berjalan pelan-pelan. Sihol Manullang selama ini dikenal sebagai Ketua Barisan Relawan Jokowi Presiden-2014 atau disebut Bara JP. Saat itu, hari kedua pasca operasi, Sihol malah ikut menyaksikan live” bedah lambung yang dilakukan Prof Wu, terhadap pasien lainnya. Sejumlah pasien yang pernah, dan akan menjalani operasi yang sama juga hadir.

Sihol sempat menunjukkan luka operasi, kepada 11 wartawan Indonesia, yang berkunjung ke kamarnya. Ada empat titik berbalut perban di areal perut. Salah satunya, terlihat sebuah selang kateter keluar mengalirkan darah-darah sisa operasi dari tubuhnya. Di tangan kiri Sihol, ada jarum infus mengalirkan cairan dari tiga tabung obat. Warna putih susu, dua lainnya bening.


Sihol juga dijenguk oleh tim dari NorgenHealth, platform layanan medis taraf internasional yang pertama dan terbesar di China. Norgenhealth inilah yang membantu Sihol dan pasien lain dari Indonesia berobat di sana. Dari mulai konsultasi, memilihkan rumah sakit dan metoda pengobatan yang cocok, sampai pengurusan visa dan akomodasi untuk kerabat yang mendampinginya di Guangzhou.

Sihol sudah lama mendengar kehebatan dokter-dokter di China. Tapi, awalnya dia tidak mengerti, bagaimana caranya berobat ke sana. Saya mengetahui NorgenHealth melalui internet dan mencobanya,” papar Sihol. Ternyata, layanannya amat nyaman, bersahabat dan lancar di rumah sakit. Bahkan perawatnya di sini, sangat ramah-ramah,” katanya.

Sihol menderita diabetes selama 14 tahun. Gula darahnya pernah mencapai 560 hingga badannya drop. Berbagai pengobatan dilakukan. Sampai ke negeri tetangga, tapi merasa kurang cocok dan diabetesnya tak kunjung membaik. Akhirnya, Sihol memutuskan operasi, karena lelah minum obat dan kuatir dengan efek buruk diabetes.

Prof Wu menceritakan, lambung Sihol Manullang dipotong, dari volume normal 400 ml, tinggal 50 ml. Dalam keadaan normal, lambung amat elastis dan bisa melar hingga 1000 ml. Sedangkan lambung yang telah dipotong, dalam enam bulan bisa mencapai kapasitas 100 ml. Kemarin, Rakyat Merdeka sempat mengontak Sihol Manullang, yang sudah berada di Jakarta. Saya sekarang sudah kembali aktivitas seperti biasa,” katanya.

Pasien lainnya Hendra Gunawan dari Katapang (Kalimantan Barat), pengusaha swasta berusia 36 tahun. Tubuhnya gemuk, 142 kilogram dan Body Mass Index mencapai 46. Saya suka sekali makan. Semua makanan enak,” katanya sambil tertawa. Hendra memutuskan operasi karena dietnya sering gagal. Segala jenis pengobatan sudah pernah dicoba. Tapi berat badannya susah turun. Saat dikunjungi, Hendra sudah empat hari keluar dari ruang operasi. Kondisinya terlihat segar. Dia berharap, tak lama lagi, tubuhnya jadi lebih sehat dan langsing. Sekarang badan terasa mulai ringan,” kata dia. Hari itu, Hendra mengonsumsi makanan cair. Dua hari sebelumnya, asupan makanan hanya dari cairan infus.

Sedangkan Tapian Manullang berasal dari Jakarta. BMI-nya sekitar 26. Postur tidak terlalu gemuk, usia 40 tahun dan tujuh tahun menderita diabetes. Matanya sering rabun, dan kondisi badan sering lemas.

Menurut Prof Wu, setelah operasi, gula darah akan berangsur-angsur turun, dan tubuh jadi lebih fit. Hari itu, kondisi ketiganya cukup bagus dan dibutuhkan sekitar sepekan pemulihan di rumah sakit. Pasien akan pulih total setelah 3-4 bulan. Dampak dari operasi gastric bypass (pemotongan lambung) atau sleeve gastrectomy (pengecilan lambung) bukan hanya menyembuhkan diabetes dan obesitas. Namun lebih dari itu, juga mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Saat di Beijing, saya sempat bertemu dengan pasien yang baru delapan hari operasi gastric bypass di Asia Pro Bariatric & Metabolic International Surgery Centre. Pria ini mukanya kelihatan segar, meskipun badannya gemuk. Tapi, dia mengaku sangat sehat. Di meja buffet makanan, saya sengaja berdiri di sampingnya. Ingin melihat cara dia makan. Rupanya dia tahu sedang diperhatikan. Saat ini saya masih makan sup sampai 45 hari setelah operasi,” katanya. Tapi, dia tak merasa lapar.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana caranya mengelak dari makanan enak,” respon saya, sambil tertawa. Dia menjawab ngakak. Wah, dulu saya juga sulit mengelak makanan enak. Lapar mata. Tapi, sekarang saya sudah bisa menahan diri.”

Tahu kami ngobrol, Dr Vijayray D Gohil, yang mengoperasi pasien itu, ikut gabung. Dia bilang, setelah 45 hari, sudah boleh makan bubur dan yang halus-halus. Lalu, 4-5 bulan kemudian, pasien boleh makan apa saja. Porsinya otomatis sedikit, karena kapasitas lambung sudah mengecil, sehingga terasa cepat kenyang.

Saya juga sempat tanya Prof Wu soal ini. Setelah menjalani operasi, aktivitas makan harus dianggap sebagai pekerjaan yang serius,” katanya. Itu berarti, menguyah makanan harus pelan-pelan. Menikmati dengan detail, sampai ke gigitan terakhirnya. (Bersambung)
 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya