Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) dinilai masih belum maksimal menyerap beras dari petani sepanjang mekanisme kinerja BUMN itu masih konservatif, birokratis, dan berjenjang.
Menanggapi hal tersebut. Kepala Bidang Humas dan Kelembagaan Perum Bulog Muhson menegaskan, pihaknya selalu berusaha menjalankan setiap penugasan yang diberikan pemerintah, salah satunya dalam menyerap gabah petani.
"Bulog selalu hadir di sana, melakukan penyerapan gabah petani sesuai dengan standar yang ada," tutur Muhson saat dihubungi Rakyat Merdeka.
Meski diakuinya, beberapa kendala kerap terjadi baik dari faktor internal maupun eksternal seperti kondisi cuaca yang saat ini memasuki musim penghujan. Namun, dengan mengoptimalÂkan peralatan yang dimiliki BuÂlog, diyakini mampu menyerap gabah dengan baik.
"Cuaca saat ini relatif. Kalau kadar air dalam gabah petani tingÂgi, kita akan optimalkan dengan peralatan yang ada. Misalnya rice mill (alat pengering), kita punya hampir 132 unit yang tersebar di Jawa dan luar Jawa," katanya.
Menurutnya, penyerapan gabah tidak hanya mengandalkan peralatan yang dimiliki Bulog semata. Pihaknya juga memanÂfaatkan kemitraan yang telah terjalin selama ini mulai dari pengusaha kecil, kelompok tani hingga satuan tugas (Satgas).
Terkait pergudangan, kaÂta Muhson, pihaknya masih melakukan proses pengembanÂgan kapasitas gudang di beberaÂpa daerah. Hal ini terkait dengan daya keuangan perusahaan.
"Rencana pengembangan gudang, pasti ada. Kalau tidak ada kendala, targetnya ingin bangun 200 gudang secara bertahap untuk menambah kapasitas penyimpanan stok barang. MaÂkanya, kami juga butuh dukunÂgan pemerintah terkait hal ini," terangnya.
Sementara itu, Direktur PeÂlayanan Publik Bulog Wahyu Suparyono tak menjawab SMS dan telepon dari
Rakyat Merdeka saat dimintai tanggapan soal masalah tersebut.
Anggota Komisi Bidang PanÂgan DPR Rofi Munawar menilai, mendekati masa panen, ketidakÂsiapan Bulog dalam menyerap beras dari petani, sesungguhnya bukan hal yang baru.
Sebab, jika Bulog serius melakukan penyerapan gabah petani, tentu harga beras tidak akan fluktuatif dan bahkan tidak perlu melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
"Beragam rapat kabinet, keluhan kepala daerah, hingga wacana restrukturisasi keÂwenangan Bulog sudah sering dibahas. Namun kinerjanya masih saja jauh dari harapan," cetusnya menanggapi inspeksi mendadak (sidak) yang dilakuÂkan Presiden Joko Widodo di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (11/3).
Rofi yang juga Ketua KelÂompok Komisi (Kapoksi) IV Fraksi PKS ini mengingatkan pemerintah, serapan beras dari petani tidak akan pernah makÂsimal sepanjang mekanisme kinerja Bulog masih konservatif, birokratis dan berjenjang.
"Hal itu terbukti dari minimÂnya serapan Bulog sepanjang taÂhun 2015 yang hanya mencapai 70 persen, di saat Harga PemÂbelian Pemerintah (HPP) gabah sudah direvisi," katanya.
Menurutnya, Bulog kesulitan menyerap beras dari petani karÂena beberapa hal. Di antaranya, diberlakukannya Pajak PengÂhasilan (PPh) sebesar 1 persen dari harga jual komoditas beras, menurunnya mitra bisnis, disparÂitas harga, hingga tidak maksiÂmalnya fungsi gudang. "Bahkan ironisnya, Bulog lebih agresif melakukan importasi beras untuk penyediaan," kritik Rofi.
Presiden Jokowi tiba-tiba melakukan inspeksi mendadak ke gudang Bulog Triyagan di Karanganyar, Jawa Tengah. Inspeksi di luar agenda presiden yang sudah dijadwalkan ini, dilakukan saat Jokowi melakuÂkan perjalanan untuk meninjau Waduk Gandong, Karanganyar Jumat lalu.
Jokowi mengatakan, cara itu dilakukannnya untuk mengecek dan mengetahui kegiatan yang dilakukan di gudang Bulog terseÂbut. Dari hasil inspeksi, ia menÂemukan, gudang Bulog Triyagan belum maksimal dalam menyÂerap gabah petani. Padahal, saat ini, musim panen sudah tiba.
"Kenapa serapan gabah tidak bagus, uangnya ada, anggaÂran ada?" tanya Jokowi dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan Tim Komunikasi Presiden, Ari Dwipayana.
Presiden mengatakan, di tengah musim panen, seharusÂnya Bulog bisa menyerap banÂyak gabah petani. Langkah ini penting dilakukan agar harga gabah petani tidak jatuh.
Presiden juga telah menelepon Dirut Bulog Djarot Kusumayakti guna menginformasikan perÂmasalahan yang terjadi seperti rusaknya sejumlah alat pengÂgilingan gabah. Jokowi menÂgatakan, permasalahan yang ditemukan di sejumlah gudang Bulog juga serupa.
Menurut Jokowi, Bulog sebetulnya sangat siap menerima beras dari masyarakat dengan fasilitas yang memadai sepÂerti pengering dan penggilingan gabah.
Pemerintah masih menyelidiki sulitnya penyerapan beras oleh Bulog apakah karena gabah yang kurang kering, kesulitan masyarakat untuk menyetor gabah, atau pembelian yang tidak cepat.
"Mesin pengering di situ kaÂpasitasnya sehari bisa 80 ton. Tapi satu minggu baru dapat 20 ton. Ini mesti ada problem lapanÂgan," tutur Jokowi. ***