Sebagian besar armada taksi yang biasanya beredar di Bandara, kemarin, berhenti beroperasi karena mereka melakukan demonstrasi menuntut penertiban perusahaan penyedia jasa taksi online. Imbasnya, kemacetan panjang terjadi di ruas Tol Cengkareng menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).
Kendati para supir taksi banÂdara ini menggelar aksi unjuk rasa, perusahaan pelat merah pengelola bandara Soetta PTAngkasa Pura (AP) II, meÂmastikan pelayanan terhadap penumpang tetap berjalan sebaÂgaimana mestinya. Begitupun dengan jadwal penerbangan.
Public Relation Manager PTAngkasa Pura (AP) IIPersero Yado Yarismano mengakui, moÂbilisasi kendaraan dari dan menuÂju Bandara Soetta kemarin pagi sempat mengalami gangguan akibat kemacetan yang terjadi di Tol Cengkareng kilometer 30.
"Namun, gangguan tersebut tidak berdampak pada penundaan penerbangan maupun kepadatan penumpang di terminal kedatanÂgan," kata Yado, kemarin.
Yado juga memastikan, meski sebagian taksi yang biasanya beredar di Bandara Soetta ikut mogok, namun penumpukan penumpang di terminal kedaÂtangan tidak terjadi. Hal ini dikarenakan masih adanya arÂmada taksi yang beroperasi dan mengangkut penumpang.
Menurutnya, sebagian besar taksi yang melakukan demo, bukan taksi resmi bandara yang memiliki stiker khusus Bandara Soetta. Sehingga ketersediaan taksi di bandara tidak banyak berpengaruh.
"Memang ada sedikit penguÂrangan, tapi tidak signifikan dan tidak mengganggu pelayanan transportasi bagi pengguna bandara. Pantauan kita siang ini (kemarin) kondisi transportasi dari dan menuju Bandara Soetta sudah normal," jelasnya.
Sebelumnya, PT AP II telah melakukan uji coba penerapan skema first in first out (FIFO) di dalam pengelolaan taksi di BanÂdara Soetta. Langkah ini dilakuÂkan untuk pembenahan angkutan taksi di Bandara dan pencegahan masuknya taksi ilegal maupun taksi pelat hitam yang mengÂgunakan aplikasi online.
Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi mengatakan, penerapan sistem FIFO akan lebih adil bagi semua perusahaan taksi sebagai upaya pemerataan. Sebab, taksi yang lebih dulu datang bisa mengangkut penÂumpang lebih awal.
"Kita tidak menghilangkan opsi memilih bagi konsumen. Kalau dia tidak suka naik taksi tertentu, dia bisa mengantre lagi dari belakang," terang Budi.
Sebelum menerapkan skema FIFO, AP II juga melakukan peÂnataan layanan taksi di Bandara Soetta. Misalnya, syarat umur kendaraan maksimal untuk dapat beroperasi di Soetta dan standar kualitas pelayanan sopir. "Taksi yang beroperasi di bandara palÂing lama umurnya dua tahun terakhir saja," kata Budi.
Data AP mengungkapkan, saat ini ada 8 perusahaan taksi dengan total armada sebanyak 4 ribu-5 ribu unit di Bandara Soetta. SeÂmentara untuk jumlah taksi yang dikelola Inkopau ada 600 unit.
"Kami sudah melakukan koorÂdinasi dengan Kementerian PerÂhubungan (Kemenhub) sebagai langkah awal. Bagi taksi yang tidak mengikuti prosedur, bahkan merugikan penumpang, kita akan eliminasi nanti," tegas Budi.
Seperti diketahui, demonÂstrasi yang dilakukan pengemudi angkutan umum termasuk taksi yang beroperasi di Bandara SoÂetta kemarin, terkait penolakan keberadaan Uber dan Grab taksi. Dua jenis taksi tersebut, merupakan angkutan berbasis online yang belakangan semakin dipilih masyarakat sebagai moda transportasi karena lebih murah, nyaman dan mudah. ***