Berita

Bisnis

Indonesia Rugi Kalau Gas Masela Offshore

JUMAT, 11 MARET 2016 | 15:49 WIB | LAPORAN:

Pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku, harus dengan skema "onshore" atau di darat.

Tenaga Ahli Bidang Kebijakan Energi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumberdaya, Abdulrachim, menjelaskan tentang pengolahan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di darat.

LNG, katanya, sebenarnya adalah suatu bentuk gas yang hanya diperlukan untuk transportasi. Misalnya, di Bontang ada kilang LNG. LNG merupakan gas yang didinginkan di suhu minus 150-160 derajat Celcius, dan jika dicairkan volumenya 1/600 volume gas.


Lalu, apabila gas hanya dipakai untuk energi pembangkit listrik atau power plant, keuntungannya tidak begitu maksimal dari segi profit keuangan. Akan lebih besar manfaat atau keuntungannya jika di olah Petrokimia, misalnya menjadi amoniak, metanol, atau bisa jadi pupuk dan plastik yang semuanya berbahan dasar gas.

" Itu memberikan nilai tambah jauh lebih tinggi daripada kita jual sebagai LNG, " kata Abdulrachim di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Jumat (11/3).

Ia membeberkan, sebenarnya selama ini, Indonesia menjual LNG murah ke China dan Jepang. Apalagi ke Jepang, negeri Sakura tersebut memang miskin sumber daya gas. Lantaran itu, menurutnya, jika pembangunan Kilang LNG di Blok Masela dilakukan off shore, maka hanya menjual LNG saja ke Jepang menggunakan kapal-kapal besar, tidak bisa dikembangkan ke industri lain yang lebih bernilai jual tinggi seperti Petrokimia.

"Sebetulnya kita rugi, kalau gas hanya kita bikin LNG saja, jual murah ke Jepang dan Negara lain," katanya.

Sedangkan untuk produk Petrokimia seperti bahan plastik saja, Indonesia masih mengimpor senilai 100 triliun per tahun. Menurutnya, ironis, Indonesia menjual gas LNG ke Negara lain, lalu membeli lagi barang jadinya berupa plastik dan barang lainnya.

"Kenapa kita tidak kembangkan sendiri, itu keuntungannya jika di darat (Pembangunan LNG Blok Masela). Seolah-olah kita hebat menjual LNG dari laut, pakai kapal-kapal besar, padahal dijual murah. Ini wawasan yang harus di clearkan dulu di masyarakat dan publik," tukasnya.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya