Berita

Pak Presiden, Apa Anda Tidak Tahu Iuran BPJS Kesehatan Naik?

JUMAT, 11 MARET 2016 | 10:43 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Saat bertemu Menko PMK Puan Maharani dan Dirut BPJS Kesehatan, kemarin, Presiden Jokowi meminta tidak ada kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Seruan Jokowi ini dinilai aneh karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan.

"Bapak Presiden tandatangan Perpres 19/2016 yang isinya menaikan iuran peserta mandiri dan pekerja formal. Halo Pak Presiden, Bapak tahu tidak sih ada kenaikan iuran ini? Atau Bapak dibohongin pembantu Bapak?‎" ucap Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, kepada redaksi, Jumat (11/2).

Dia mengatakan, iuran peserta mandiri kelas  3 naik dari Rp 25.500 menjadi 30.000 per orang per bulan. Kelas 2 naik dari Rp 42.500 menjadi Rp 51.000 dan kelas 1 dari Rp 59.500 menjadi Rp 80.000. Demikian juga iuran pekerja formal naik 2 persen. Sementara itu, iuran pengusaha turun jadi 3 persen.


Menurutnya, besaran iuran yang ditetapkan dalam Perpres 19/2016 mencerminkan ketidakadilan. Dia mencontohkan, jika mau adil seharusnya iuran PBI bukan Rp 23.000 tapi Rp 30.000 per bulan karena iuran peserta mandiri sudah dinaikkan  menjadi Rp 30.000 per bulan.

"Pemerintah punya anggaran. Bukankah pemerintah sudah berkomitmen mengalokasikan 5 persen APBN untuk kesehatan. Kalau 5 persen x 2000 triliun = 100 triliun, sementara kalau iuran PBI jadi 30.000 maka alokasi APBN menjadi 30.000 x 92.4 juta orang x 12 bulan = 33.26 triliun. Masih ada  66.74 triliun yang bisa digunakan Kemenkes.

"Ini menujukkan keberpihakan politik anggaran pemerintah untuk BPJS masih sangat rendah," katanya menekankan.

Ketidakadilan kedua, kata Timboel, iuran peserta mandiri dinaikan tetapi hal yang sama tidak dilakukan terhadap pekerja formal atau  PPU (peserta penerima upah). Padahal mestinya, batas atas atau plafon iuran dinaikkan jadi 3 atau 4 PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak).

"Selama ini hanya 2 PTKP. Kenaikan plafon ini bisa mendukung kenaikan iuran," tukasnya.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya