Berita

Hadir Di Jakarta, Mahathir Mohammad Mengaku Prihatin Dengan Kondisi Umat Islam

KAMIS, 10 MARET 2016 | 15:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad menyatakan prihatin atas kondisi umat Islam dewasa ini karena ada di antaranya menjadi imigran ke sejumlah negara Eropa.

Keprihatinan tersebut disampaikan Mahathir ketika tampil pada acara Seminar Nasional di Kampus Universitas Islam Assyafi'iyah (UIA), Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/3).

Acara itu digelar menyambut Milad 35 Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) seluruh Indonesia pimpinan Tutty Alawiyah yang juga Rektor UIA. Mahathir mengatakan kondisi seperti itu terjadi karena negara tempat kelahiran, dan tempat mereka dibesarkan sudah tidak ada aman lagi.


"Mereka dan keluarganya akhirnya menjadi imigran. Ini memalukan, terlebih mereka menjadi imigran ke negara-negara yang bukan muslim," papar Mahathir.

Ia menjelaskan negara-negara Islam sudah tidak aman lagi, karena mereka terjebak dalam perang saudara. Kondisi perang saudara seperti itu membuat negara-negara Islam ada yang menjadi "failure state" alias negara gagal akibat perang saudara tersebut.

"Mengapa ini terjadi. Hal itu karena memang kita telah meninggalkan ajaran Islam. Kita tidak boleh menyalahkan orang lain, tapi salahkan diri kita sendiri mengapa kondisi umat Islam banyak yang menjadi imgran, dan mengapa negara-negara Islam terjebak dalam perang saudara," tegas Mahathir.

Menurut Mahathir, kalau umat Islam mengikuti ajaran Islam dengan benar, maka pemimpin-pemimpin di negara Islam tadi tidak akan menyalahgunakan kekuasaan. "Mereka menjadi pemimpin yang amanah tapi karena tidak amanah tadi, akhirnya ada untutan perubahan, dan tidak jarang tuntutan perubahan tersebut berujung kepada perang saudara," papar Mahathir.

Tutty Alawiyah menegaskan tidak mudah mendatangkan Mahathir ke Indonesia dengan mengunjungi Kampus UIA. "Kami mendatangkam Pak Mahathir lewat jalur keluarganya yang ada di Inggris, dan kebetulan saya mengenal baik dengan keluarganya yang ada Inggris," terang Tutty.

Tutty juga berpendapat yang sama dengan Mahathir bahwa situasi dunia khususnya di negara-negara Islam seperti di Timur Tengah memang dalam situasi perang saudara. "Banyak umat Islam yang pergi ke negara lain khususnya untuk untuk mencari perlindungan dan rasa aman," terang Tutty.

Tutty menambahkan ratusan ribu umat Islam dari sejumlah negara di Timur Tengah seperti, Suriah, Irak, Palestina dan termasuk ada umat Islam dari negara Benua Afrika berimigran ke negara-neraga Eropa. "Dalam perjalanan mereka harus menghadapi bahaya ombak karena mereka menggunakan jalur laur," papar Tutty.

Kunjungan Mahathir selain menghadiri Milad ke-35 BKMT, juga mengunjungi pendidikan pesantren khusus yatim Assyafi'iyah. Dalam pesannya, Mahathir minta anak-anak yatim agar terus belajar di Assyafi'iyah. Apalagi Tutty Alawiyah telah menggratiskan semua biaya pendidikan, termasuk menyediakan asramanya. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya