Berita

Hendri Satrio:net

Wawancara

Hendri Satrio: Pilgub DKI Bisa Lebih 2 Pasangan, Tapi Ahok Melenggang Mulus

SELASA, 08 MARET 2016 | 09:22 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang akan berlangsung Pebruari 2017 nanti sudah mulai terasa panas hingga saat ini. Keputusan Ridwan Kamil untuk tetap bertahan sebagai Walikota Bandung tidak menurunkan tensi per­saingan menjadi DKI 1. Sejumlah BaCaGub sudah mulai terang-terangan tampil ke publik. Yusril Ihza Mahendra, Ahmad Dhani, Muhammad Idrus, Sandiaga Uno, Marco Kusumawijaya tampak serius menantang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang konon didukung Istana menjadi orang nomor satu di Ibukota.

Kali ini kembali bersama Hendri Satrio, pengamat komu­nikasi politik yang juga juru bi­cara Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) kami membahas persaingan menuju kursi panas DKI 1.

Bagaimana situasi persain­gan menuju kursi Gubernur Jakarta 2017?
Persaingannya cukup panas. Banyak yang memprediksikan bahwa Ahok akan melenggang mudah dan kembali memimpin Jakarta pasca keputusan Ridwan Kamil tetap menjadi Walikota di Bandung. Menurut saya tidak demikian, Jakarta selalu siap menghadirkan kejutan saat pemilihan Gubernur.

Persaingannya cukup panas. Banyak yang memprediksikan bahwa Ahok akan melenggang mudah dan kembali memimpin Jakarta pasca keputusan Ridwan Kamil tetap menjadi Walikota di Bandung. Menurut saya tidak demikian, Jakarta selalu siap menghadirkan kejutan saat pemilihan Gubernur.

Maksud anda bagaimana?

Menurut hasil sigi Lembaga Survei KedaiKOPI Ahok me­mang sangat populer, elektabilitas atau tingkat keterpilihannya juga paling tinggi, tapi hanya 43,5% masih dibawah 50%+1. Artinya ada 56,5% suara warga Jakarta yang bisa jadi memberikan suara ke pasangan calon lain.

Apakah artinya Ahok belum aman?
Betul, saya rasa Ahok juga menyadari hal ini. Tingkat elek­tabilitas untuk seorang incum­bent di bawah 50% tidak terlalu menggembirakan.Tapi rasa tidak aman Ahok ini bisa berimbas positif buat Jakarta. Ahok di­harapkan akan melakukan ban­yak hal untuk menyenangkan warga Jakarta sebelum Pilgub dilaksanakan, mudah-mudahan dia wujudkan dengan pemban­gunan pro rakyat dan prinsip keadilan.

Kembali ke elektabilitas, jadi menurut Anda masih ada kesempatan bagi calon lain mengalahkan Ahok di Jakarta?

Oh bila dilihat dari hitungan hasil survei jelas masih ada, karena ada 56,5% persen tadi. Namun ini ada syarat dan keten­tuan yang berlaku.

Maksud anda?
Menurut saya Pilgub Jakarta akan ketat bila hanya 2 pasangan calon. 2 Paslon ini akan head to head mengumpulkan suara dari masyarakat. Nah bila head to head kemungkinan besar akan ada kejutan di hasil akhir. Tapi calon penantang Ahok harus mulai bergerak dari sekarang dan bersatu bukan jalan sendiri-sendiri. Bila lebih dari 2 Paslon, Ahok akan lebih mudah meleng­gang karena suara pemilih akan dipeberebutkan banyak calon sementara Ahok sudah punya tabungan 43,5%.

Saat ini memang sudah calon kuat penantang Ahok?
Belum, semua calon masih malu-malu walaupun mereka sudah bergerilya sendiri-send­iri. Mungkin mereka masih ragu-ragu, apalagi bila mereka menggunakan hitungan bisnis profit and loss, ya pasti makin minder. Tapi sejauh ini perg­erakan mereka cukup mumpuni, Yusril misalnya sudah melaku­kan pergerakan politik jumpa SBY dan jumpa Ahmad Dhani. Muhammad Idrus kendati be­lum dapat tiket resmi dari PKS tapi spanduk "Jakarta Keren" nya sudah tersebar ke seluruh Jakarta.

Bagaimana dengan calon lain?

Banyak yang bergerak kok, Sandiaga Uno mulai mengko­munikasikan pentingnya penam­bahan lapangan kerja di Jakarta melalui slogan "Jakarta Setara" atau Marco Kusumawijaya yang dekat sekali dengan suara akar rumput juga mulai menyebarkan semangat "Rayakan Jakarta" dan "Top MarcoTop".

Apakah mereka cukup kuat melawan Ahok?

Saat ini, wah belum, mereka harus lebih bekerja keras lagi dan bila memang mereka serius mau mengganti Ahok mereka harus bersatu, karena secara hitungan hasil survei yang tentu saja bisa berubah, seperti yang saya katakan tadi Ahok kemungkinan besar hanya bisa dikalahkan dengan Head To Head. Kalau banyak Paslon, wah ini sama saja memberikan tiket gratis buat Ahok.

Jadi bila makin banyak Paslon maka peluang Ahok lebih besar?

Kurang lebih demikian. Biasanya suara masyarakat lebih emosional ke like and dislike, suka atay tidak suka. Bila head to head maka bisa jadi hanya 2 pilihan, suka Ahok atau tidak suka Ahok. Walaupun bila ini terjadi, drama pilpres 2014 kemarin bisa terulang saat masyarakat terbagi dua antara pemilih Jokowi dan Prabowo.

Sebetulnya siapa yang pal­ing mempengaruhi pilihan warga Jakarta?

Nah ini menarik, untuk urusan pilihan politik 77,3% responden yang juga warga Jakarta mengat­akan bahwa mereka menentukan sendiri pilihan politik mereka. Bahkan yang memilih dipen­garuhi oleh artis/aktor/selebritis hanya 1,3%. Jadi kalau nanti ada Paslon yang menggunakan jasa selebritis untuk menarik suara maka, mohon maaf, tidak akan banyak berpengaruh.

Sebetulnya bagaimana urutan elektabilitas Cagub Jakarta menurut Lembaga Survei KedaiKOPI?
Bila hanya nama-nama yang saya sebutkan tadi maka urutannya Ahok, Yusril, Idrus, Sandi dan Marco. Selain itu ada juga nama nama seperti Haji Lulung, Adhyaksa, Djarot, Desi Ratnasari dan lainnya tapi yang ini tidak urutan ya. Sayangnya nama Ahmad Dhani dan Dede Yusuf yang menurut kabar anginakan diusung PKB dan Demokrat belum masuk, mungkin nanti bila kami survei lagi, kami masukkan.

Ada catatan lain untuk Pilgub Jakarta?
Sejak pilkada langsung, belum ada Gubernur Jakarta yang ter­pilih dua periode, jadi bila Ahok bisa terpilih lagi, ini sejarah baru. Oh ada satu lagi, ternyata 51,3% warga Jakarta tidak menginginkanGubernur Terpilih di 2017 kelak maju ke Pilpres, tapi kalau jadi Menteri saja, nah warga Jakarta mengijinkan ini. Jakarta memang menarik hahaha. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya