PT Kereta Api Indonesia (KAI) siap menjalankan penugasan dari KemenÂterian Perhubungan (KeÂmenhub) sebagai operator kereta api ringan (Light Rail Transit /LRT). LRT Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi ini rencananya beroperasi pada Semester-I 2018 atau sebelum penyelenggaraan Asian Games 2018.
Vice President (VP) CorÂporate Communication PT KAI Agus Komarudin bilÂang, penugasan untuk menÂgelola dan mengoperasikan LRT merupakan hak peÂmerintah. Oleh karena itu, apabila pemerintah menunÂjuk PT KAI, perusahaan siap menjalankannya.
"Semua pengerjaan proyek kan sudah ada araÂhannya dari Menteri PerÂhubungan (Ignasius Jonan-red). Kalau Adhi Karya bidangnya infrastruktur, kalau KAI bidang operasi dan sarananya," tutur Agus kepada Rakyat Merdeka.
Saat ini, operator kereta api satu-satunya di dalam negeri adalah PT KAI. NaÂmun, bukan berarti perusaÂhaan melakukan monopoli. Oleh karena itu, keputusan terkait siapa yang akan bertindak sebagai operaÂtor kembali kepada peÂmerintah sebagai pemilik kewenangan.
Terkait dengan kemungÂkinan dikelola dan diopÂerasikannya kereta ringan secara berbarengan, kata Agus, hal itu tidak mungÂkin. Adapun kesiapan yang akan dilakukan apabila PT KAI terpilih menjadi opÂerator, menurutnya, salah satunya adalah mengenai sumber daya manusia.
Meskipun operasionalÂnya berbeda, perusahaan memiliki pendidikan dan pelatihan mengenai hal itu. Agus menegaskan, pada prinsipnya perusaÂhaan memiliki pengalaman terkait perkeretaapian.
Keinginan Adhi Karya untuk menjadi operator LRT, dipertanyakan Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Riset
Masyarakat TransporÂtasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno.
"PT Adhi Karya spesialis kontraktor. Kecuali memÂbuat badan usaha baru antar BUMN kelola LRT," kata Djoko.
Apabila ingin jadi opÂerator kereta ringan, saran Djoko, sebaiknya Adhi Karya belajar kepada peÂrusahaan yang telah berÂpengalaman mengenai hal tersebut.
Adhi Karya meminta kepada pemerintah agar diikutkan dalam mengelola dan mengoperasikan kereta ringan Jabodetabek. BahÂkan, perseroan siap mengÂgelontorkan dana senilai Rp 9 triliun atau 30 persen dari total kebutuhan inÂvestasi.
Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan menjelaskan, pihaknya bersama PT KAI bersedia untuk menjadi penyedia sarana, dengan porsi yang ditetapkan pemerintah. "BeÂsarannya terserah pemerÂintah agar tanggung jawab menyediakan prasarana dapat sinkron," katanya.
Adhi Karya sebelumnya sudah ditugaskan pemerÂintah untuk membangun prasarana LRT sesuai PeraÂturan Presiden (Perpres) No. 98/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/
Light Rail Transit.Prasarana LRT meliputi jalur, stasiun dan fasilitas operasi kereta api. SedanÂgkan, sarana kereta api adalah rangkaian kereta itu sendiri, termasuk pemeliÂharaannya.
Kiswodarmawan mengÂklaim, keikutsertaannya dalam membangun sarana, agar dapat memudahkan ruÂang gerak perseroan dalam membangun prasarana.
Menurutnya, untuk prasaÂrana LRT yang dibangun Adhi Karya akan dibayar pemerintah sebagai benÂtuk pengalihan aset dari BUMN ke negara. PembaÂyaran dilakukan bertahap dan dialokasikan dalam pagu belanja Kementerian Perhubungan. "Prasarana LRT yang dikerjakan Adhi Karya dibagi dua tahap denÂgan jarak sepanjang 83,6 kilometer (km)," katanya.
Tahap pertama meliputi ruas Cibubur-Cawang, BekaÂsi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas sepanjang 42,1 km. Total biaya pembanÂgunan tahap I ini mencapai Rp 23,8 triliun. Sedangkan pada tahap kedua terdiri dari Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah-Grogol sepanÂjang 41,5 km. ***