Berita

MISI ACONCAGUA

El Viente Blanco Terus Bayangi Tim Ekspedisi Indonesia Raya Di 4.900 Mdpl

MINGGU, 06 MARET 2016 | 09:39 WIB | LAPORAN:

Cuaca dingin dan badai berbahaya atau El Viento Blanco bukan hanya menghentikan pendakian Tim Ekspedisi Indonesia Raya di ketinggian 6.600 mdpl atau terpaut sekitar 300 mdpl dari summit di ketinggian 6.962 mdpl. Tapi awan tebal disertai badai dengan kecepatan angin 30 knot terus membayangi Tim Ekspedisi yang sudah turun gunung menuju Plaza De Mulas di 4.300 mdpl.

"Tim Ekspedisi diputuskan turun ke bawah. Tapi sejak di 5.900 mdpl, awan gelap dan angin kencang terus membayangi. Saat ini Tim Ekspedisi sudah berada di ketinggian 4.300 mdpl titik pemberhentian yang aman," kata Dansatgas pendakian Letkol Mar Rivelson Saragih di taman Aqoncaqua, Sabtu (6/3) malam atau minggu pagi (7/3) waktu di Indonesia.

Sementara itu sejumlah penjajakan terus dilakukan oleh promotor pendakian Teguh Santosa, Manajer Ekspedisi Dar Edi Yoga serta Dansatgas Pendakian Letkol Mar Saragih dengan operator pendakian untuk tetap melanjutkan ekspedisi pengibaran bendera Merah Putih sampai di puncak gunung Aconcaqua.


"Prinsipnya jika operator membolehkan, anggota pendakian terutama dari marinir siap melanjutkan  pendakian dengan tetap mengutamakan keselamatan para pendaki," kata Letkol Mar Rivelson Saragih.

Cuaca di puncak Gunung Aconcagua, Argentina, memang sulit diprediksi dan dapat berubah secara ekstrem dalam waktu singkat. Hal inilah yang sering menjadi kendala dalam pendakian Aconcagua.

Tim Ekspedisi Indonesia Raya yang diperkuat pendaki tunadaksa Sabar Gorky, lima anggota Korps Marinir TNI AL, dua pecinta alam dan seorang wartawan Kantor Berita Politik RMOL dalam beberapa hari terakhir berupaya melalui cuaca dingin dan badai yang berbahaya dan sering disebut dengan julukan El Viento Blanco.

Para pendaki Ekspedisi Indonesia Raya telah beberapa kali mengalami serangan badai dalam upaya summit attack ke ketinggian 6,962 mdpl. Upaya menembus badai untuk mencapai puncak Aconcagua harus terhenti di titik 6.600 mdpl. Di saat bersamaan jarak pandang menjadi sangat terbatas ditambah dengan tiupan angin yang kuat dan dapat menghempaskan para pendaki.

"Bagaimanapun juga, keselamatan adalah hal yang utama dan di atas segala-galanya," kata Promotor Ekspedisi Teguh Santosa yang sudah tiga hari memantau pendakian di Mendoza, Argentina.

Menurut Teguh Santosa, para pendaki telah berupaya maksimal dan mempertaruhkan nyawa. Angin kencang yang dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut dan ditambah dengan hujan salju merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini.

El Viento Blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (alm) Norman Edwin dan rekannya (alm) Didiek Samsu pada saat melakukan ekspedisi di Aconcagua tahun 1992.

"Kemarin ada dua orang pendaki dari negara lain yang harus dievakuasi karena mengalami pembusukan pada ruas jari di tangan dan kaki akibat tidak memakai pelindung standar pendakian. Bahkan banyak juga pendaki yang harus dievakusai dari ketinggian 5.400 mdpl," ujar Teguh Santosa.

Adapun jika pendakian dilanjutkan, sejumlah pendaki yang sudah terpukul karena bertahan dalam suhu dingin minus 30 derajat dan dihantam angin kencang akan melakukan recovery dan turun gunung. Sementara sebagian lagi setelah melakukan recovery dan menunggu pasokan makanan akan melanjutkan pendakian jika diberikan lampu hijau oleh operator pendakian. [zul]

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya