Berita

foto: net

Serikat Pekerja Desak Holding Bank BUMN Dipercepat

JUMAT, 04 MARET 2016 | 03:16 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Di era sekarang korporasi yang bisa bertahan adalah yang tidak alergi dengan perubahan. Banyak orang takut terhadap perubahan bahkan sebagian tidur pada saat perubahan itu datang.

"Tanpa perubahan tidak mungkin kita akan bertahan. Demikian pula dalam dunia usaha perubahan harus dilakukan. Terdapat tiga unsur yang mendorong kita untuk berubah yakni konsumen, kompetisi dan teknologi," kata Ketua Umum Serikat Pekerja Bank BTN, Satya Wijayantara kepada redaksi, Jumat (4/3).

Jelas Satya, begitu juga untuk sektor perbankan BUMN harus melakukan perubahan untuk bisa bersaing, bukan hanya dengan bank bank swasta nasional tetapi juga bank asing yang beroperasi di Indonesia, begitu pula bersaing dengan bank-bank di luar negeri.


Menurutnya, terkait rencana pembentukan holding bank-bank BUMN harus didukung penuh semua stake holder bank-bank BUMN tersebut. Hal ini penting agar holding bank BUMN dapat berjalan dengan mulus.

Rencana holding bank BUMN ini akan menyatukan beberapa bank antara lain PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk.

Satya menjelaskan, holding bank-bank BUMN akan menciptakan sinergi yang lebih baik dalam pencarian dana maupun dalam hal pembiayaan. Yang akhirnya tidak ada saling rebut pendanaan yang meyebabkan perang bunga-bunga deposito yang berujung bunga deposito melambung tinggi dan akan mengurangi kinerja antar bank.

"Holding tersebut juga dapat meningkatkan sharing infrastruktur antar bank BUMN. Sehingga upaha kerja sama seperti penggabungan ATM dalam ATM Himbara bisa lebih maksimal," ujarnya.

Selain itu, lanjut Satya, holding bank BUMN juga dinilai bisa meningkatkan kualitas dan kemampuan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki nantinya. Dan masing-masing bank akan saling sharing data SDM yang berkualitas.

"Perlu diketahui, bahwa holding bank BUMN itu sendiri, merupakan salah satunya untuk memenuhi persyaratan Single Presence Policy (SPP) dari Bank Indonesia," ungkapnya.

Dengan demikian, tambah Satya, holding bank BUMN harus direalisasikan secepatnya. Namun ia menekankan dalam holding nanti perlu dibentuk Bank Investment untuk menjadi holding dari ke empat bank tersebut. Menurutnya, tidak mesti dari bank yang sudah ada. Karena rumornya Bank Mandiri akan jadi holding bank BUMN. Ini penting agar semua berjalan dengan mulus.

"Dengan pembentukan holding, maka perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut akan lebih mudah bersinergi. Alasannya, manajemen BUMN-BUMN itu akan di bawah satu kendali. Misalnya, kebijakannya menjadi satu. Lalu beberapa departemen yang ada di BUMN itu juga disatukan. Misalnya untuk departemen informasi teknologi dijadikan satu, sehingga tidak perlu lagi setiap bank ada kebijakan masing-masing. Bank-bank itu nantinya akan menjadi pelaksananya saja," demikian Satya yang juga pengamat dan praktisi di BTN. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya