Berita

Sigit Sosiantomo/net

Sigit Sosiantomo: Haluan Negara Perlu Dihadirkan Lagi

JUMAT, 04 MARET 2016 | 01:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pembangunan nasional yang berjalan saat ini dinilai banyak pihak berlangsung tanpa visi dan arah kebangsaan yang jelas. Dalam praktik berbangsa saat ini, banyak yang tidak sesuai lagi dengan UUD.

Menurut Anggota Fraksi PKS MPR RI Sigit Sosiantomo, perlu dihadirkan kembali sebuah haluan negara layaknya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

"Yang kita rasakan saat ini negara berjalan seperti tanpa haluan. Sepertinya perlu dihadirkan lagi haluan negara seperti GBHN," ujar Sigit dalam Sosialisasi Empat Pilar 'Pancasila, UUD NRI, Bhinneka Tungal Ika dan NKRI' di Gedung Panca Bhakti Warga, Perum UKA 1 No 2A, Kendung, Surabaya, beberapa waktu lalu.


Sigit mengatakan, GBHN memang telah dihapuskan dan digantikan dengan UU Nomor 25/2004 dan UU Nomor 17/2007 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang dituangkan dalam bentuk Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Namun sejauh ini bagaimana capaian-capaian dalam berbangsa dan bernegara.

"Apakah sesuai target dan harapan UUD, atau banyak yang gagal? Apakah tujuan reformasi tercapai dengan RPJPN ini? Perlu dievaluasi capaian-capaian RPJPN ini," imbuh Sigit.

Sebab menurut Sigit, realisasi RPJPN belum dirasakan masyarakat sepenuhnya dan menilai pembangunan saat ini kehilangan arah dan identitas nasional, serta kerap dinilai autopilot.

"Ya wajar saja. Karena yang dirasakan saat ini Indonesia pasca reformasi makin liberal, dan fungsi negara tidak dirasakan. Dimana identitas pembangunan nasional yang menjunjung tinggi kebangsaan?" jelasnya.

Dia mencontohkan kebijakan pembangunan nasional dalam bidang ekonomi banyak yang bertentangan dengan pasal 33 UUD karena penguasaan sumber daya alam lebih besar oleh kepentingan asing daripada negara. Contoh lain, program pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang menuai protes dari masyarakat luas. Belum lagi kasus Freeport.

Apalagi lanjut dia, dunia saat ini berkembang dinamis. Indonesia sudah memasuki era kerja sama ekonomi regional dan internasional yang cenderung liberal seperti Trans Pacific Partnership (TPP) dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Ganti presiden, ganti prioritas pembangunan nasional. Pijakannya adalah janji kampanye, bukan lagi haluan dasar pembangunan nasional. Yang seharusnya, janji-janji kampanye presiden berdasarkan haluan yang telah digariskan. Jadi dievaluasi saja, seberapa besar capaian pembangunan saat ini sesuai RPJPN dan UUD? berkesinambungan atau tidak? Jika tidak, lebih baik pertimbangkan hidupkan lagi model GBHN," cetusnya.

Namun demikian, anggota Komisi V DPR ini mengungkapkan, haluan negara yang dimaksud bukanlah GBHN ala Orde Baru. Melainkan haluan negara yang bersifat jangka panjang, terukur dan berkesinambungan namun dengan konteks kebangsaan hari ini meski berganti kepemimpinan.

"Saya dengar MPR juga sedang mengkaji untuk amandemen UUD lagi terkait menghadirkan lagi haluan negara. Mungkin akan ada beberapa konsekuensi seperti mereposisi ulang MPR. Tapi ini penting untuk menjaga NKRI," pungkasnya. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Mojtaba Khamenei Janjikan Kekalahan Pahit bagi AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 | 16:14

Wondr Kemala Run 2026 Putar Roda Ekonomi hingga Rp140 Miliar

Minggu, 19 April 2026 | 16:06

India Protes ke Iran, Dua Kapalnya Ditembak di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 | 15:33

Didik Rachbini: Video Ceramah JK Direkayasa untuk Memecah Belah

Minggu, 19 April 2026 | 15:29

Ketua GPK: Isu Pemecatan Massal PPP Menyesatkan

Minggu, 19 April 2026 | 14:57

KPK Soroti Risiko Korupsi Pinjaman Luar Negeri

Minggu, 19 April 2026 | 14:13

MUI Dorong Penguatan Akhlak di Kampus untuk Cegah Kekerasan Seksual

Minggu, 19 April 2026 | 14:09

Iran Ringkus 127 Orang Terduga Mata-mata Musuh

Minggu, 19 April 2026 | 13:39

Cak Imin Wanti-wanti Penyalahgunaan Vape untuk Narkoba

Minggu, 19 April 2026 | 13:25

Menkop Ajak DPRD Dukung Kopdes Jadi Mesin Ekonomi Baru

Minggu, 19 April 2026 | 13:10

Selengkapnya