. Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) merilis hasil survei para Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar pada Munas April 2016 mendatang. Secara popularitas, Ketua Fraksi Golkar DPR, Setya Novanto (Setnov) menempati posisi pertama dengan raihan poin 35,80 persen. Hal itu lantaran citra negatif Setnov saat menduduki posisi Ketua DPR.
Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Faridz menilai, popularitas bisa bermakna positif, tetapi juga bisa bermakna negatif.
Menurutnya, orang bisa terkenal karena melakukan hal-hal negatif, seperti Daeng Aziz yang akhir-akhir ini menjadi terkenal.
"Belum tentu tingkat popularitas ini berdampak positif terhadap Setnov. Karena bisa saja Setnov terkenal lantara hal-hal negatif yang sering diekspose oleh media," ujarnya dalam diskusi yang digelar KedaiKOPI, di Jakarta, Kamis (3/3).
Donal Fariz mengatakan, syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi ketua umum partai pohon beringin yakni, bebas dari persoalan hukum, terlebih kasus korupsi.
"Kasus-kasus hukum tersebut bisa menyangkut tindak pidana korupsi ataupun tindak pidana berat lainnya," ungkapnya.
Menurut Donal, syarat itu bukan sebuah alternatif di balik persoalan Partai Golkar dalam satu tahun terakhir. Syarat itu justru jadi beban baru. Orang nomor satu di Golkar nanti akan menjadi simbol. Jika simbol sebuah partai terkena proses hukum, menyelamatkan kadernya dari jerat hukum semakin sulit.
"Bagaimana mendorong kader-kader untuk tidak lagi bersoalan dengan persoalan hukum, khususnya korupsi, kalau pimpinan baru tidak clean and clear," ujar dia.
Syarat kedua, lanjut Donal, Ketum Golkar ke depan harus selesai dengan persoalan hukum dan ekonominya. Hal ini ditujukan agar tidak menjadikan jabatan ketum untuk mencari rente.
"Kalau itu tidak dilakukan, wassalam. Kapal Golkar bisa karam," kata dia.
Syarat terkahir, caketum Golkar harus memiliki kapasitas membawa partai beringin menjadi modern. Pasalnya, tantangan ini tidak hanya dihadapi Golkar, tapi juga seluruh partai.
"Modern dari sisi pendanaan, rekrutmen, dan kaderisasi. Ini penting, karena kita nyaris tidak dengar kader-kader Golkar di daerah bisa jadi juara di daerah," ungkap dia.
Di luar syarat-sayarat di atas, Donal melihat, Ketum Golkar terpilih harus jauh dari praktik politik uang. "Sekarang ini kan sudah mulai ada deal-deal, kalau tidak dihentikan, ini akan jadi lingkaran setan," kata Donal.
Ditambahkan, Ketua DPP Partai Golkar, Tantowi Yahya, Ketum Partai Golkar ke depan haruslah sosok yang berpengaruh. Karena siapa pun dia akan menjadi pemain penting dalam konstelasi politik Indonesia jelang Pilkada 2017 dan 2018 serta Pemilu 2019.
"Ketum Golkar akan jadi mitra pemerintah dalam sukseskan pembangunan," ujarnya kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (3/3).
Kedua, lanjutnya, Ketum Golkar yang baru harus punya kecakapan politik. "Artinya, harus betul-betul mengerti politik itu apa. Dengan pemahaman politik yang matang, dia bisa pahami keinginan para kader dan arah tujuan parpol," tutur anggota Komisi I DPR itu.
Diketahui, Setnov dianggap sebagai kandidat calon ketua umum Partai Golkar yang paling populer di mata publik. Hal itu diketahui berdasarkan hasil survei KedaiKOPI tentang kriteria Caketum Partai Golkar. Setnov dipilih oleh 35,8 persen publik. Hasil ini mengungguli sembilan kandidat Caketum Golkar lainnya.
"Ini baru dari segi popularitas. Beda dengan elektabilitas. Pokoknya yang dikenal oleh publik," terang Hendri Satrio, Juru Bicara Kedai Kopi saat rilis survei di Resto Dua Nyonya Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/3).
Tingkat popularitas mantan Setnov mengalahkan popularitas calon lainnya yakni Priyo Budi Santoso yang meraih poin tertinggi kedua sebesar 26,80 persen, kemudian Ketua DPR Ade Komarudin (25,00 persen), Syahrul Yasin Limpo (20,00 persen), Idrus Marham (19,04 persen).
Kemudian, Hendri melanjutkan, menyusul lainnya, Azis Syamsuddin (17,60 persen), Airlangga Hartanto (12,60 persen), Indra Bambang Utoyo (11,20 persen), Zaki Iskandar (9,40 persen) dan Mahyudin (8,40 persen).
Survei ini dilakukan terhadap 500 responden yang tersebar secara proporsional dengan metode wawancara melalui telepon dari tanggal 29 Februari sampai 1 Maret 2016. Survei tersebut memiliki tingkat kepercayaan sekitar 95 persen dan margin of error sekitar 4,38 persen.
[rus]