Berita

zainal bintang/net

Politik

KISRUH GOLKAR

Kesepakatan Damai Partai Beringin Terancam Rontok

KAMIS, 03 MARET 2016 | 16:15 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kisruh Partai Golkar semakin rumit. Rencana Munas rekonsiliasi "partai beringin" itu dibayang-bayangi kebuntuan.

Upaya jalan tengah melalui kesepakatan Trio Islah (Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono) dan perpanjangan umur masa bakti Munas Riau terancam rontok di tengah jalan.

Demikian disampaikan politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang, kepada wartawan, Kamis (3/3). Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Ormas MKGR ini menyorot Keputusan Mahkamah Agung pada 29 Februari 2016. MA mengesahkan Munas Golkar di Bali tahun 2014, yang menetapkan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai Ketua Umum.


"Penetapan MA itu lambat atau cepat akan mengubah kesepakatan islah dua kubu yang berseteru, yaitu kubu ARB (Munas Bali) dan kubu AL (Munas Ancol) yang semula  menyetujui Munas akan diadakan bulan April atau Mei 2016”, ujarnya.

Bintang mengaku sependapat dengan pernyataan pakar hukum tata negara, Irmanputra Sidin, yang mengatakan bahwa putusan MA yang menolak kasasi kubu Agung Laksono menegaskan hanya kubu Munas Bali yang sah dan konsititusional. (Baca: Ahli Tata Negara: Putusan MA Sudah Keluar, Munas Rekonsiliasi Golkar Inkonstitusional)

Akibat putusan MA itu, kini sejumlah pengurus DPD I Golkar mulai bersuara menolak Munas tahun ini. Dengan kata lain, mereka berkeras meminta Munas Golkar dilaksanakan pada 2019 sesuai masa bakti kepengurusan hasil Munas Golkar di Bali 2014.

Jalan  buntu yang terlihat oleh Bintang adalah dengan timbulnya "perlawanan" dari sejumlah DPD I Provinsi yang notabene loyalis ARB, baik itu hasil Munas Riau (2009) ataupun hasil Munas Bali (2014) karena ARB adalah Ketua Umum pada kedua hasil Munas itu.

Bintang juga sepakat dengan Irman yang mengatakan pemerintah berada di luar demarkasi kedaulatan parpol. Satu-satunya institusi negara yang diberikan kewenangan untuk menyelesaikan konflik dalam tubuh parpol hanya MA.

"Saya sangat prihatin, karena belakangan ini menyaksikan nasib parpol ditentukan oleh selera pemerintah, tanpa menghormati konstitusi parpol," kata Ketua Koordinasi Pusat Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (EO-TKG) ini. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya