Berita

Idrus Marham:net

Wawancara

WAWANCARA

Idrus Marham: Harus Ada Kesadaran Dari Caketum Untuk Mengakhiri Cara-cara Yang Tak Bermoral

RABU, 02 MARET 2016 | 08:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mengedepankan kepentingan partai dari pada kepentingan pribadi menurut Idrus Marham sangat diperlukan sebagai syarat mutlak untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar ke depan. Dirinya yang ikut men­calonkan diri mengaku memiliki dan sudah membukti­kan sikap itu. Simak petikan wawancara selengkapnya:

Memangnya sudah berapa DPD yang dukung Anda?
Saya selama menjadi Sekretaris Jenderal partai yang seka­rang ini sudah enam tahun dan selama ini selalu melakukan ko­munikasi politik dengan mereka, dan selama menjadi Sekjen saya telah melakukan langkah-langkah yang mengedepankan kepentingan partai, tidak ber­pikir untuk diri saya sendiri. Kepentingan partai lebih utama dari kepentingan pribadi.

Contoh konkretnya?

Contoh konkretnya?
Awal tahun 2011 saya men­gundurkan diri sebagai anggota DPR, dengan pertimbangan semata-mata fokus pada posisi saya sebagai Sekjen. Tahun 2011 saya juga ditawari Menteri oleh ARB (Aburizal Bakrie) untuk diusulkan dalam reshuffle kabi­net pada waktu itu, saya lagi-lagi menolak.

Karena saya masih Sekjen dan ingin prioritas. Pada tahun 2014, lagi-lagi saya tidak men­calonkan pada Pileg, meskipun ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen daftar caleg, tapi saya katakan jangan. Karena kita ingin konsentrasi.

Dan yang paling penting, ketika Partai Golkar mengalami dilema, ancaman tidak bisa ikut dalam pilkada pada tahun yang lalu, waktu itu inisiatif sendiri tanpa ada tekanan apa-apa, yang penting Partai Golkar ikut pilkada dan saya siap mun­dur sebagai Sekjen ketika itu, dan saya memanggil saudara (Zainuddin) Amali, Anda saja se­bagai Sekjen. Saya mendatangi ARB dan JK untuk meyakinkan ini. Pengorbanan-pengorbanan seperti ini tentu diperlukan ketika menjadi pemimpin ke depan atau siapapun kita yang memiliki syahwat kekuasaan yang lebih tinggi.

Apabila Anda terpilih seba­gai Ketum, bersedia nggak di­capres atau dicawapreskan?

Maka itu pandangan saya, ketua umum Partai Golkar tidak otomatis menjadi calon presiden atau wakil presiden 2019.

Kenapa?
Karena paradigmanya beda, karena yang memilih ketua umum adalah para pemegang suara DPD I dan DPD II Partai Golkar dan Ormas. Tetapi calon presiden dan cawapres dipilih oleh rakyat, karena itu saya akan menciptakan sebuah sistem yang memberi peluang kepada selu­ruh kader partai Golkar untuk bersaing duduk pada posisi itu.

Caranya?
Saya akan melakukan metodologi survei dengan lembaga survei yang independen, dan siapapun yang dikehendaki oleh rakyat, itulah yang ditetapkan di Golkar. Siapapun dia. Begitulah kalau Golkar ingin besar.

Memangnya Munas Golkar bisa berlangsung demokra­tis?
Tidak hanya demokratis, rekonsiliatif dan berkeadilan tetapi juga harus jujur dan berkualitas. Maka kata jujur itu tercermin pada proses-proses yang tidak diwarnai dengan money politics, pertimbangan matematis.

Sementara konsep berkualitas itu adalah bahwa mengedepankankonsep dan gagasan, yang di­lakukan melalui perdebatan konseptual, agar ketua umum yang terpilih nanti mempunyai konsep yang jelas, ideologi yang tegas, jaringan sosial yang kuat.

Kenapa demikian?
Saya melihat, ke depan ini pertarungan politik semakin terbuka. Karena itu, ketua um­um yang terpilih melekat po­tensi kematangan ideologis, intelektual, sosial dan politik itu penting. Kalau tidak punya kematangan politik maka akan lebih berorientasi pada lobi-lobi, bahkan bargaining yang menyimpang dari tujuan utama Partai Golkar.

Kabarnya KPK diminta dil­ibatkan untuk mengantisipasi money politics di Munas?
Yang kita inginkan adanya kesadaran bersama dari semua calon ketua umum yang ada untuk mengakhiri cara-cara yang tidak bermoral, tidak bermarta­bat, yaitu melegitimasi money politics, transaksional. Saya mencermati, sejak reformasi ketika praktik money politics marak di hampir semua partai termasuk Golkar, maka elek­tabilitas partai dari waktu ke waktu semakin turun. Saya kira ini harus kita cermati semua.

Jadi uang itu tidak perlu?
Kita perlu uang, tapi bukan satu-satunya yang penting, tapi ba­gaimana komitmen kerakyatan kita kalau Golkar menang di Pemilu yang akan datang. Tapi kalau hanya mengedepankan transaksi kemudian tidak muncul di tengah masyarakat, maka Golkar akan ditinggalkan oleh rakyat. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya