Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mengambil kebijakan sangat dipengaruhi oleh kepentingan asing, terdapat kepentingan kaum pemodal di belakang kementerian yang dipimpin oleh Sudirman Said ini.
Hal itu diungkapkan pengamat ekonomi politik Ichsanudin Noorsy, menurutnya sejak lama Kementerian ESDM memang terlalu pro terhadap kepentingan asing.
"Apalagi di bawah rezim SBY dulu kepentingan asingnya luar biasa. Sekarang juga begitu," katanya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa, (1/2).
Ia membeberkan, dalam persoalan Blok Masela misalnya, ada kepentingan Inpex dan Shell di belakang Kementerian ESDM.
"Yang berarti itu kekuatan Jepang dan Amerika," lanjut Noorsy.
Ia kemudian membandingkan, sikap yang ditunjukkan Menko Rizal Ramli yang lebih menonjolkan kepentingan nasional dengan menginginkan pembangunan onshore atau kilang di darat meskipun menurutnya harus ada studi lebih lanjut perihal keputusan di mana kilang selayaknya dibangun.
"Saat ini, sikap politik Presiden dalam Blok Masela akan menentukan sampai seberapa jauh posisi Presiden bisa bermain cantik," ujar Noorsy.
Yang dimaksudnya bermain cantik adalah bahwa Presiden Jokowi harus melihat dengan cermat, di mana ia pasti akan mempertimbangkan posisi kekuatan Amerika Serikat dan Jepang. Karena proyek-proyek lain sudah banyak diberikan kepada Tiongkok.
"Secara konstruksi internasional, sepanjang Presiden mau bermain cantik dia pasti akan beri posisi ke Shell dan Inpex. Karena posisi yang lain, Presiden sudah memberikan ke China," jelasnya.
Dalam hal ini, Noorsy menyebutkan Indonesia sejatinya telah menjadi lahan pertempuran kepentingan kapital yang menguasai ekonomi dunia. Indonesia dijadikan arena bertempur kepentingan-kepentingan asing yang ada, yakni antara China, Jepang, dan Amerika.
"Maka dari itu sebenarnya kita terjajah secara ekonomi," pungkas Noorsy.
[wah]