Berita

foto:net

Warga Korban Penggusuran Berhak Dapat Permukiman Layak

LBH Jakarta: Kurun Waktu 30 Tahun Bisa Ajukan Kepemilikan
SABTU, 27 FEBRUARI 2016 | 10:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Langkah pemerintah DKI Jakarta melakukan banyak penggusuran paksa terhadap warga miskin dinilai ber­lebihan. Pemerintah wajib memenuhi hak warga atas permukiman yang layak.

Ruang hidup warga miskin yang semakin sempit terus digu­sur. Sementara solusi yang dita­warkan pemerintah tidak mampu menjawab permasalahan.

Pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alldo F Januardy menuturkan, sepanjang 2015 lalu di DKI Jakarta telah dilakukan 113 penggusuran paksa yang menel­an korban 8.145 kepala keluarga dan 6.283 unit usaha.


"Dalam kasus-kasus peng­gusuran tersebut warga rentan menjadi korban kekerasan dan tidak diberi solusi yang me­madai," katanya.

Dalam kasus penggusuran, posisi pemerintah lebih pada pelaku pelanggaran ketimbang pelindung hak-hak warga. Meski Indonesia sudah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memuat jaminan perlindungan bagi para korban penggusuran, sikap pemerintah malah sebaliknya. Dalam kasus penggusuran paksa sering terjadi kekerasan dan intimidasi.

"Dari 113 kasus penggu­suran yang kami teliti, 95 kasus penggusuran dilakukan tanpa musyawarah sama sekali, 72 ka­sus terjadi tanpa ada solusi bagi warga korban penggusuran," paparnya.

Kata Alldo, keterlibatan aparat TNI/Polri dalam proses peng­gusuran paksa berlebihan. Dia menekankan, tidak ada dasar hukum bagi TNI maupun Polri untuk terlibat dalam proses penggusuran. "Keterlibatan aparat yang tidak berwenang tentu akan meningkatkan potensi kekerasan dalam kasus-kasus penggusuran paksa," ujarnya.

Dia menerangkan, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, warga yang menduduki suatu tanah, dengan itikad baik, selama kurun waktu 30 tahun atau lebih, dapat mendaftarkan tanah tersebut sebagai miliknya. Di Jakarta, pada 19 kasus peng­gusuran warga sudah menempati tanah tersebut selama lebih dari 30 tahun. Bahkan ketika digusur mereka tidak mendapatkan ganti rugi yang layak.

LBH Jakarta, lanjut Alldo, meminta pemerintah pusat dan DPR segera membuat peraturan perundang undangan yang men­gadopsi standar-standar HAM tentang penggusuran. Pemerintah juga harus merancang solusi pem­bangunan kota tanpa penggusuran paksa dan kekerasan.

"Kalau hukum kita masih memberi peluang bagi pemer­intah untuk melakukan penggu­suran, maka harus ada penguatan terhadap warga agar mereka tak selalu menjadi korban," tan­dasnya.

Pengacara publik LBH Jakarta, Yunita menambahkan, penggu­suran paksa merupakan pelang­garan hak atas perumahan.

"Kebanyakan masyarakat miskin di Jakarta tidak punya ru­mah, mereka harus membangun rumah secara swadaya karena pemerintah tidak memberikan hak mereka atas perumahan yang layak," katanya.

Mahalnya harga tanah dan rumah membuat warga miskin terpaksa membangun rumah­nya di kawasan-kawasan yang sebenarnya tidak boleh dijadi­kan perumahan. Ketika terjadi penggusuran, hak mereka atas perumahan dilanggar. Demikian juga hak mereka atas hidup layak dan kesempatan berusaha.

"Pemerintah harusnya men­gakui bahwa ada masalah-masalah seperti di kota-kota besar, jangan karena warga tinggal di tempat yang tidak ada bukti kepemilikannya lalu pemer­intah seenaknya menggusur," tegasnya.

Yunita juga mempertanyakan bentuk partisipasi masyarakat jelang dilakukannya penggusuran. Selama ini jelang penggusuran pemerintah hanya mengum­pulkan warga dan memberikan surat peringatan 1, 2, dan 3 yang sudah dianggap sebagai bentuk partisipasi warga. Sementara aspirasi masyarakat tidak didengarkan.

"Banyak korban penggusuran mengatakan solusi mereka dipin­dahkan ke rumah susun, ternyata tidak menjawab masalah, mer­eka menginginkan relokasi agar tetap memiliki kesempatan un­tuk bekerja dan berusaha seperti membuka warung atau usaha lainnya," terangnya.

Perjuangan di jalur hukum pun juga memiliki banyak ken­dala, seperti proses yang lama dan prosedur yang berbelit. Beberapa kasus penggusuran di Jakarta juga mempertegas pandangan pemerintah sangat diskriminatif terhadap warga miskin. Sebab banyak wilayah ruang terbuka hijau (RTH) yang saat ini dijadikan permukiman elite, pusat perbelanjaan, hingga kawasan industri.

"Jika setiap penggusuran pe­merintah selalu menyalahkan warga miskin, maka ini akan terkesan diskriminatif," tandas­nya. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya