Berita

korsel dan korut/net

Dunia

AS Kemudikan Situasi Semenanjung Korea Ke Jurang Perang

KAMIS, 25 FEBRUARI 2016 | 16:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Komando tertinggi Tentara Rakyat Korea (KPA) mengklarifikasi sikap untuk mengerahkan segala kekuatan strategis dan taktis angkatan bersenjata revolusioner dalam operasi preemptive untuk memukul mundur pasukan musuh.

Hal itu siap dilakukan Korea Utara bila ada tanda operasi pasukan khusus musuh yang bergerak menargetkan markas tertinggi Korea Utara.

Dikap tersebut juga merupakan respon atas langkah Amerika Serikat, Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya yang tengah menggodok sanksi baru di ranah Dewan Keamanan PBB untuk Korea Utara. Sanksi baru itu dipersiapkan menyusul sikap Korea Utara yang melakukan uji coba bom hidrogen serta peluncuran satelit luar angkasa beberapa waktu lalu.


"Pihak berwenang Amerika Serikat dan Korea Selatan saat ini tengah mengemudikan situasi di Semenanjung Korea ke arah jurang perang," begitu kata pernyataan dari Korean Committee for Solidarity with the World People, Societies for Friendship with the Asia-Pacific People dan Korea-Asia Pacific Exchange dalam pernyataan yang diterim redaksi (Kamis, 25/2).

Dalam pernyataan juga disebutkan bahwa bagi warga Korea Utara, markas tertinggi revolusi lebih berharga ketimbang nyawa mereka sendiri. Hal itulah yang membuat warga Korea Utara siap untuk melindungi negara serta markas revolusinya.

Diketahui bahwa Korea Utara telah berada di bawah sanksi PBB sejak tahun 2006 lalu karena melakukan uji coba nuklir dan sejumlah peluncuran roket. Selain embargo senjata, PBB juga melarang Korea Utara mengimpor serta mengekspor teknologi nuklir dan rudal serta barang-barang mewah.

Saat ini, sejumlah negara tengah melakukan pembahasan soal rencana penerapan sanksi baru bagi Korea Utara. Hal itu dilakukan menyusul sikap Korea Utara yang meluncurkan satelit observasi bumi ke luar angkasa awal Februari lalu. Namun Amerika Serikat dan sekutunya menilai bahwa Korea Utara telah melalukan peluncuran roket.

Selain itu, pertengahan Januari lalu juga Korea Utara membuat geger dengan melakukan uji coba bom hidrogen di bawah tanah. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya