Berita

bashar al assad/net

Dunia

Assad Dan Oposisi Sambut Gencatan Senjata, Turki Tetap Menolak

KAMIS, 25 FEBRUARI 2016 | 07:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kelompok oposisi utama Suriah menyatakan akan mendukung rencana dua pekan gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat dan Rusia.

Dalam pernyataannya hari Rabu (24/2), Komite Negosiasi Tingkat Tinggi yang menjadi blok utama oposisi, menyatakan percaya bahwa gencatan senjata selama dua minggu akan memberikan hasil positif.

Dikutip dari Aljazeera, kelompok oposisi terhadap rezim Bashar al Assad ini bermaksud menguji keseriusan komitmen pihak lain dalam gencatan senjata yang akan dimulai Sabtu (27/2).


Pernyataan oposisi itu keluar setelah Presiden Assad berhasil meyakinkan Rusia soal komitmennya menghormati gencatan senjata.

"Sebuah panggilan telepon berlangsung antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Secara khusus, Assad menegaskan kesiapan pemerintah Suriah untuk memfasilitasi pembentukan gencatan senjata," demikian pernyataan Kremlin.

Masih dari keterangan Kremlin, Assad menyebut gencatan senjata sebagai langkah penting menuju resolusi politik.

Namun, Putin dan Assad menekankan perlunya melanjutkan "perjuangan tanpa kompromi" terhadap kelompok Negara Islam Irak-Suriah atau ISIS, Front al-Nusra (sayap militer Al Qaeda) dan kelompok lain yang termasuk dalam daftar teroris Dewan Keamanan PBB.

Awal pekan ini, AS dan Rusia menyepakati "gencatan senjata" antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi. Pernyataan bersama dua negara itu dilakukan setelah komunikasi via telepon antara Presiden Barack Obama dan Presiden Vladimir Putin.Namun, gencatan senjata itu tidak berlaku untuk ISIS dan Front al-Nusra (sayap militer Al Qaeda).

Perjanjian mengharuskan semua pihak bersenjata mendaftarkan partisipasinya pada tengah hari tanggal 26 Februari, dan menghentikan pertempuran pada tengah malam pergantian hari.

Namun rencana gencatan senjata ini ditanggapi pesimis oleh Turki. Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya khawatir rencana AS-Rusia itu akan memberikan keuntungan bagi pasukan Assad dan pendukung mereka.

Erdogan mengatakan, pada prinsipnya Turki menyambut baik upaya menuju gencatan senjata. Tapi ia menuduh AS, Uni Eropa, PBB, Iran dan Rusia bertindak tidak terhormat di Suriah karena dengan langsung atau tidak langsung mengizinkan pasukan pemerintah membunuh warga sipil.

Dua hari lalu, Wakil Perdana Menteri Turki, Numan Kurtulmus, menyatakan pesimis terhadap rencana gencatan senjata di Suriah.Turki malah mengancam akan melanjutkan serangan artileri terhadap Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG).

"Saya menyambut gencatan senjata ini, tapi saya tidak terlalu optimis bahwa hal itu akan dihormati oleh semua pihak," kata Numan Kurtulmus.

Turki mengkhawatirkan kemajuan pasukan YPG di Suriah utara. Turki menuding, Kurdi Suriah mencoba mendirikan wilayah otonomi di perbatasan Turki-Suriah.

Bagi Ankara, YPG yang merupakan sayap bersenjata Partai Uni Demokrat Suriah (PYD) adalah cabang dari partai terlarang di Turki, Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Pemerintah Turki kerap menuduh PKK sebagai dalang di balik serangan teror di dalam negeri. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya