Berita

Ancaman Terhadap Media Massa Di Mata Karni Ilyas

RABU, 24 FEBRUARI 2016 | 15:51 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Jurnalis senior Indonesia, Karni Ilyas, berharap para insan pers serius mengantisipasi ancaman-ancaman terhadap dunia media massa di masa mendatang.

"Pers sendiri punya banyak masalah. Senjakala media cetak, televisi pun saya pikir sudah mau masuk 'sore'," kata Karni saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (24/2).

Saat ditemui, Karni baru saja menghadiri acara media gathering yang digelar TV One, stasiun televisi berita di mana ia menjadi pemimpin redaksi. Media gathering itu dalam rangka ulang tahun TV One yang ke-8 pada 14 Februari lalu.


Kembali pada ancaman terhadap media massa mainstream, Karni mengungkapkan salah satu penyebabnya adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat.

"Dampaknya, orang-orang malas membaca, malas memahami berita secara utuh," kata Karni.

Ia menyinggung kebiasaan masyarakat, terutama generasi muda, yang lebih banyak membaca informasi yang disebarkan lewat media sosial. Akibatnya, generasi yang pada dasarnya memang tidak suka membaca ini tidak dapat memahami informasi secara utuh.

"Mereka lebih banyak, misalnya membaca twitter, akhirnya informasi dapat sepotong-sepotong. Bahkan sebuah riset mengatakan, pembaca media dari usia 15-25 tahun akan hilang," ungkap Karni.

Ia pun menyinggung soal kemajuan citizen journalism. Menurutnya, walaupun itu menandakan semakin tingginya kemauan masyarakat mencari sumber informasi, tetapi di sisi lain itu adalah ancaman bagi para insan pers.

"Bicara nasib media di masa depan enggak usah terlalu teknis. Hal-hal yang terkait masa depan media massa harus pelaku pers bicarakan lebih fokus," tekannya.

Bicara tentang dunia pers yang digelutinya puluhan tahun, Karni baru saja meraih penghargaan Medali Spirit Jurnalisme dalam acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2016 yang diselenggarakan di Pantai Kuta, KEK Mandalika, Nusa Tenggara Barat, Selasa (9/2).

Pemandu acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One ini menerima salah satu anugerah bergengsi yang diberikan oleh Komunitas HPN dan tidak diberikan tiap tahun. Saat itu,  yang memberikannya adalah Menteri Komunikasi dan Infomatika (Menkominfo), Rudiantara.

Sebelum Karni, pada 2009, pendiri Jawa Pos, Dahlan Iskan, juga mendapat penghargaan ini. Sebelumnya, tahun 2010, tokoh pers nasional almarhum Rosihan Anwar. Sedangkan pada 2011, pendiri kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama.

"Bagi saya penghargaan itu bukan datang dari satu organisasi. Tetapi dari komunitas pers. Itu semacam pengakuan prestasi seorang wartawan," ucapnya.

"Saya sendiri tidak pernah mengharapkan dan tidak menyangka akan mendapat anugerah itu," ucap Karni. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya