. Munas Partai Golkar seharusnya tidak hanya sekedar memilih ketua umum. Meskipun Munas yang akan digelar semangatnya sebagai media penyelesai konflik, tetapi mencegah konflik timbulnya konflik baru juga tidak kalah penting. Salah satu sumber konflik adalah rekruetmen calon presiden.
Demikian disampaikan politisi Partai Golkar Muhammad Sarmuji kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/2).
Sarmuji mengatakan rekruitmen calon presiden adalah masalah yang krusial apalagi pemilihan presiden berbarengan dengan pemilihan legislatif pada Pemilu 2019 nanti.
"Rekruitmen calon presiden jika tidak dikelolah dengan baik bisa menimbulkan konflik baru yang sebenarnya bisa dicegah," ujar anggota DPR ini.
Terkait rencana Munas Golkar, Sarmuji mengusulkan agar masalah konvensi bisa masuk dalam pembahasan Munas. Selain memilih ketua umum DPP, lanjut dia, jika perlu Munas sebaiknya juga memilih ketua dewan konvensi agar ketua dewan konvensi memiliki legitimasi kuat dan bisa lebih independen dalam menjalankan tugasnya.
Sarmuji meyakini dengan dibahasnya isu konvensi dalam Munas akan menghasilkan persepsi positif. Pasalnya, Partai Golkar perlu banyak terobosan untuk bisa merecovery citra partai akibat konflik yang panjang.
‎"Konvensi jika dikelola dengan baik juga bisa menjadi penggerak mesin partai yang sudah lama tidak dipanasi," terangnya.
Dia menegaskan j‎ika di dalam Munas kali ini tidak cukup waktu untuk membahas secara detail tentang konvensi, maka konvensi termasuk dewan konvensi bisa dibahas secara khusus di dalam Rapimnas.
"Yang penting secara prinsip ada produk Munas yang mengatur tentang konvensi seperti AD/ART yang merupakan cantolan bagi aturan yang lebih detail," pungkas.
[rus]