Berita

piramida manusia/net

Dunia

Jepang Siapkan Aturan Baru Soal Piramida Manusia Di Sekolah

RABU, 10 FEBRUARI 2016 | 10:53 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Jepang saat ini tengah menyusun pedoman baru bagi sekolah terkait dengan piramida manusia. Piramida manusia yang dimaksud adalah formasi segitiga seumpama piramida yang dibentuk dari tumpukan manusia dalam senam dan olahraga di sekolah, atau di Jepang lebih dikenal dengan sebutan kumitaisou.

Penyusunan pedoman baru itu dimaksudkan untuk mengurangi jumlah kecelakaan dan cedera serius yang melibatkan piramida manusia.

Kata Menteru Pendidikan Jepang Hiroshi Hase seperti dimuat BBC (Selasa, 9/2), aturan baru terkait piramida manusia dalam olahraga sekolah akan resmi diberlakukan pada akhir Maret mendatang.


"Ini melibatkan kehidupan anak-anak, dan beberapa korban dilaporkan telah mengalami cedera serius," kata Hase.

Formasi piramida manusia biasanya dibuat dengan beberapa orang berlutut dan sejumlah orang lainnya berdiri di atas punggung temannya itu. Formasi semacam itu dibuat bertumpuk-tumpuk hingga menyerupai piramida.

Aktivitas itu merupakan salah satu yang digemari di Jepang. Putri Aiko juga pernah ambil bagian dalam senam tersebut pada tahun 2013 lalu.

Namun aktivitas tersebut beresiko karena bisa menyebabkan orang yang melakukannya mengalami cedera.

Menurut Dewan Olahraga Jepang, sejak tahun 2011 lalu pembayaran asuransi untuk cedera yang berhubungan dengan piramida manusia telah mencapai lebih dari 8.000 kasus per tahun.

Salah satu kasus terjadi di Osaka pada September 2015 di mana seorang siswa mengalami patah tulang setelah piramida manusia sepuluh tingkat runtuh. Insiden itu memicu reaksi dari masyarakat uang meminta dewan pendidikan lokal yang meminta agar ada pembatasan piramida manusia hanya sampai maksimal lima tingkat. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya