Berita

foto:net

On The Spot

Satu Mayat Korban Bom Sarinah Segera Dikirim Ke Kanada

4 Mayat Terduga Pelaku Belum Bisa Diambil Keluarga
JUMAT, 22 JANUARI 2016 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sampai kemarin belum bisa dipastikan, kapan jenazah para terduga pelaku teror bom di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, dikembalikan ke keluarganya.

Situasi di depan Ruang Transit Jenazah RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur lengang. Tidak ada lagi polisi yang berjaga di depan Ruang Transit Jenazah, atau di sekitar kontainer Disaster Victim Identification (DVI) Polri, tem­pat jenazah tersimpan.

Sampai Senin lalu, aparat kepolisian masih menjaga ketat area tersebut. Empat pasang polisi bersiaga di depan Ruang Transit Jenazah, dan kontainer DVI.


Tapi kemarin, pengamanan di area tersebut hanya ditandai garis polisi (police line) yang masih terpasang. Garis polisi itu terbentang dari samping Ruang Transit Jenazah, hingga mele­wati bagian belakang kontainer DVI. Garis polisi ini menutupi ujung koridor dari bangsal lain yang menuju ke Ruang Transit Jenazah.

Sejak pagi hingga kemarin sore juga tidak terlihat perwaki­lan keluarga dari para terduga teroris yang mendatangi lokasi,untuk menanyakan perihal pengambilan jenazah.

Pada Senin lalu, pihak keluarga yang datang ke tempat tersebutadalah kerabat dari salah satu terduga pelaku teror, yaitu Muhammad Ali. Mereka datang ke tempat tersebut bersama tim kuasa hukumnya. Namun, karena pemeriksaannya belum se­lesai, maka pihak keluarga harus pulang dengan tangan kosong.

Kepala Instalasi Forensik RS Polri, AKBP Jayus Suryanta mengatakan, empat jenazah yang diduga sebagai pelaku penge­boman di MH Thamrin masih terbaring di Posko Postmortem RS Polri Kramat Jati. Sejauh ini, belum ada perintah untuk menyiapkan pemulangan empat jenazah tersebut.

"Setahu saya, tidak ada jenazah yang akan diambil hari ini. Atasan saya, sampai sekarang juga belum kasih instruksi soal pengambilan jenazah mereka. Jadi, empat jenazah itu, saat ini masih kami simpan," kata Jayus.

Jayus mengaku belum menge­tahui, kapan jenazah empat terduga pelaku tersebut bisa diambil keluarganya. Sebab, saat ini dirinya hanya bisa menunggu perintah atasan.

"Saya tinggal menunggu perintah atasan. Kalau sudah ada semuanya, langsung kami persiapkan," tandasnya.

Di RS Polri, sebelumnya ter­dapat lima jenazah dari kejadian teror bom Thamrin Kamis pekan lalu. Empat jenazah di antaranya adalah para terduga pelaku teror, yaitu Muhammad Ali, Afif, Ahmad Muhazan dan Dian Juni Kurniadi. Satu jasad lain adalahkorban bom tersebut, yaitu se­orang Warga Negara Asing (WNA) Amir Aouli Taher.

Terkait jenazah Amir Aoli, Jayus menyatakan, jasad korban sudah diambil dari RS Polri Kramat Jati. Rencananya, jenaz­ah dibawa ke Yayasan Rumah Duka Abadi, Daan Mogot ter­lebih dahulu, sebelum dipulang­kan ke Kanada.

"Menurut rencana, hari Sabtu dipulangkannya, menunggu penerbangannya dulu," ucap Jayus.

Jenazah Amir telah ditempatkan di dalam peti berwarna cokelat tua. Pihak RS Polri bertemu langsung dengan utusan Kedutaan Besar Kanada untuk serah terima jenazah. Proses serah terima disaksikan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Setelah proses serah terima, jasad Amir dimasukkan ke mobil jenazah milik Yayasan Rumah Duka Abadi.

Jayus menjelaskan, sejak Selasa, jenazah tersebut me­mang sudah bisa dikeluarkan. Hasil tes DNA dan administrasi lainnya juga sudah tidak ada masalah. Satu-satunya hambatan adalah masalah administrasi dari kedutaan yang akan memulang­kan jasad Amir.

"Ini terjadi karena kewargane­garaan ganda yang dimiliki kor­ban. Tapi akhirnya diputuskan, almarhum akan dipulangkan ke Kanada," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif DVI Polri Kombes Anton Castilani menyatakan, baru ada enam keluarga yang datang mengakusebagai keluarga ke pos ante mortem. Enam jasad korban dan terduga pelaku telah teri­dentifikasi semua berdasarkan dokumen yang dibawa keluarga. Dokumen yang dibawa keluarga biasanya membantu identifikasi jenazah.

"Dapat diidentifikasi bila ke­luarga yang mengakui membawa dokumen sidik jari, gigi, DNA, ciri-ciri fisik terdapat tanda lahir, sama properti apa yang biasa dibawa dan dipakai," ucapnya.

Menurut Anton, dari enam jenazah, sudah ada tiga keluarga yang mengaku dari keluarga Sugito dan Rico Hermawan yang jenazahnya telah dimakamkan. Serta jasad korban WN Kanada Tahar Amer Quali yang masih menunggu Kedutaan Kanada.

Sementara dari terduga pelaku, baru ada tiga keluarga yang datang mengakui, yaitu Muhammad Ali, Afif, dan Dian Juni Kurniadi. Tiga jenazah itu menurut Anton telah teridenti­fikasi dari sidik jari.

"Kalau sudah tahu namanya, berarti sudah teridentifikasi ting­gal satu yang belum teridentifikasi," papar Anton.

Dari data yang dirilis Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Musyafak, identitas 7 orang yang tewas adalah Rico Hermawan, Sugito, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif alias Sunakim, WN Kanada Amer Quali Tahar, dan Ahmad Muhazan bin Saron.

Dari ujuh nama itu, ada satu keluarga yang belum mengakuinya. "Polda itu ngomong ber­dasarkan dugaan penyidik, kalau kami berdasarkan apa yang kami temukan. Saya tak menyebut nama karena belum ada keluarga yang datang, tapi jenazahnya laki-laki. Kalau sudah ada nama kan sudah teridentifikasi, ini kan belum" imbuh Anton.

Dari ketiga jasad terduga pelaku, Anton mengatakan be­lum mendapat izin dari Densus 88 untuk menyerahkan ke keluarga.Hal itu karena masih ingin dilakukan pengembangan penyidikan.

"Karena masih dalam prosespenyidikan, ini kita masih menunggu izin dari Densus 88 karena kalau mereka butuh infor­masi soal jenazah ini gimana," paparnya.

Jumlah korban serangan di Jalan MH Thamrin pada Kamis pekan lalu mencapai 34 orang, delapan di antaranya meninggal dunia.

Jumlah korban luka karena ledakan Thamrin yang masih dirawat di rumah sakit ada 12 orang. Mereka tersebar di be­berapa RS di Jakarta, seperti di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto tujuh orang, di RS Umum Tarakan satu orang, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) satu orang, di RS Abdi Waluyo dua orang, dan di RS Medika Permata Hijau satu orang. ***

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Keterbukaan Informasi Bagian Penting Pelayanan Publik

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:03

Wajah Buruk AS Tak Bisa Lagi Dipoles sebagai Polisi Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:02

Bupati Rejang Lebong M Fikri Thobari Dibawa ke Jakarta Usai OTT Pagi Ini

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:55

Seret ke Pengadilan Pelaku Pengeboman Ratusan Anak Perempuan di Iran

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:39

Bupati Rejang Lebong M Fikri Thobari Kena OTT KPK

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:36

Secara Ekonomi AS Babak Belur Gegara Serang Iran

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:28

Iran Tak akan Negosiasi dengan AS-Israel Lewat Diplomasi

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:24

Fokus Merawat Stabilitas di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 | 05:18

APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Selasa, 10 Maret 2026 | 04:42

Selengkapnya