Berita

foto: humas mpr

Ketua MPR: Teruslah Bekerja Keras Selamatkan Bumi

JUMAT, 22 JANUARI 2016 | 07:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Era reformasi yang dimulai pada 1998 menimbulkan banyak perubahan. Mulai dari kebebasan berekpresi hingga perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya perubahan itu tidak seluruhnya bernilai positif. Ada juga sebagian pengaruh reformasi itu yang bernilai negatif. Antara lain, hilangnya ruh kebangsaan, lunturnya rasa nasionalisme juga rusaknya lingkungan, termasuk kawasan huta.

Pernyataan itu disampaikan Ketua MPR Zulkifli Hasan di hadapan rombongan Yayasan Garuda Nusantara, saat mereka melakukan audiensi, di Ruang Kerja Ketua MPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/1). Pada kesempatan tersebut rombongan Yayasan Garuda Nusantara dipimpin ketua Ully Hary Rusady. Ikut serta dalam pertemuan tersebut adik Ully, Paramitha Rusady.

Kerusakan lingkungan pasca reformasi menurut Zulkifli terjadi dengan sangat masif. Karena itu dibutuhkan banyak relawan dan pecinta alam, seperti yang selama ini sudah dilakukan Ully Sigar Rusady dkk. Selain itu, para pecinta alam serta relawan lingkungan kata Zulkifli  tidak boleh menyerah. Teruslah bekerja keras menyelamatkan bumi.


Selain itu Zulkifli juga mengatakan, dulu sebelum reformasi, MPR merupakan lembaga tertinggi negara dengan tugas-tugas yang sangat banyak. Namun kini sebagian tugas itu sudah tidak dimiliki MPR. Tersisa tiga tugas saja yang masih dimiliki MPR. Yaitu mengubah UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengangkat dan menurunkan Presiden serta Wakil Presiden, serta menjaga dan memupuk semangat serta jiwa kebangsaan.

Pada kesempatan tersebut Ully Rusady memperlihatkan sebuah film layar lebar berjudul My Journey Mencari Mata Air yang diproduksi Yayasan Garuda Nusantara. Film itu berkisah tentang perjalanan anak kecil yang ingin tahu mata air, lalu si anak pun mencari mata air.

Setelah 38 tahun berkiprah dalam menjaga lingkungan menurut Ully baru kali ini pihaknya bisa membuat flm tentang lingkungan. Ini dilakukan karena Yayasan Garuda Nusantara merasa perlu melakukan komunikasi melalui media film layar lebar. Rencananya mulai Maret nanti, fil My Journey Mencari Mata Air akan diputar di 4000 desa di seluruh Indonesia. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 Kg

Senin, 20 April 2026 | 22:11

KPK Serahkan Rampasan Puput Tantriana Rp3,52 Miliar ke Lemhannas

Senin, 20 April 2026 | 22:06

DPR Cuma Butuh Sehari Rampungkan 409 Daftar Masalah RUU PPRT

Senin, 20 April 2026 | 22:01

Berikut 12 Poin Strategis RUU PPRT yang Dibahas Baleg DPR

Senin, 20 April 2026 | 21:54

Dipimpin Dasco, RUU PPRT Segera Dibawa ke Paripurna

Senin, 20 April 2026 | 21:52

Pemkot Tangerang Jaga Transparansi Lewat Penyerahan LKPD Unaudited 2025

Senin, 20 April 2026 | 21:34

Menkes Sebut Penanganan Campak Tidak Perlu Lockdown, Ini Penjelasannya

Senin, 20 April 2026 | 21:14

Kunjungi IKN, Ketua MPR: Proses Pembangunan Begitu Cepat

Senin, 20 April 2026 | 21:05

IPB Hanya Skorsing 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual

Senin, 20 April 2026 | 20:41

Bisnis Tambang Sarat Risiko, Asuransi Diminta Perkuat Kompetensi

Senin, 20 April 2026 | 20:39

Selengkapnya