Berita

sutopo purwo nugroho/net

BNPB: Rumah Tahan Gempa Penting Tapi Masih Sangat Terbatas

RABU, 20 JANUARI 2016 | 09:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Sebagian besar rumah yang rusak akibat gempa karena dibangun dengan konstruksi bukan tahan gempa.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui pesan singkat yang dipancarluaskannya, Rabu (20/1).

Sutopo mengatakan minimnya regulasi di Pemda tentang rumah tahan gempa, terbatasnya pengetahuan masyarakat dan tukang, alasan ekonomi, dan tata ruang menjadi faktor penyebab bangunan dengan konstruksi tahan gempa belum banyak dibangun. Padahal bangunan tahan gempa dapat mengurangi risiko gempa.


Sutopo mengatakan gempa sering mengguncang wilayah Indonesia. Meskipun bukan gempa besar, namun dampaknya merusak. Apalagi episentrumnya sering di darat sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Dia mencotntohkan, gempa 5,4 SR di Pulau Buru, Maluku, pada 17 Januari 2015 menyebabkan 329 rumah rusak dimana 181 rusak ringan, 76 rusak sedang, dan 72 rusak berat. Akibat gempa tercatat 1 orang tewas, 15 orang luka-luka.

Selain itu 8 rumah ibadah dan sekolah rusak. Sekitar 150 KK atau 460 jiwa mengungsi di tenda, lapangan, dan sekitar rumah. Korban jiwa dan luka-luka akibat tertimpa bangunan roboh. Daerah yang terdampak di 6 desa di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Buru Selatan.

Dampak gempa serupa juga pernah terjadi di Alor, NTT pada saat gempa 6,2 SR pada 4 November 2015 menyebabkan 3 orang luka-luka, 5.439 jiwa mengungsi, dan 2.075 rumah rusak. Gempa "swarm"  5 SR yang beruntun di Halmahera Barat, Maluku Utara pada 16-11-2015 juga menyebabkan 10.165 jiwa mengungsi dan 1.593 rumah rusak.

"Pedoman atau desain rumah tahan gempa sesungguhnya sudah banyak tersedia, namun belum dijadikan sebagai dasar yang wajib bagi masyarakat atau semua pihak untuk membangun rumah tahan gempa. Pemda harus meningkatkan kepedulian ini agar dampak gempa dapat dikurangi," tukasnya.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya