Berita

Lisnawati:net

Wawancara

WAWANCARA

Lisnawati: Anak-Anak Trauma, Lihat Mobil Parkir Saja Takut

SELASA, 19 JANUARI 2016 | 08:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menjadi istri Din Minimi bukanlah hal yang mudah, di mana sang suami pernah menjadi buron Kepoli­sian karena dianggap sebagai pemberontak. Lisna­wati harus siap setiap saat mendapatkan cibiran hingga teror.

"Sudah sering pihak Kepolisian datang ke rumah untuk tanya di mana keberadaan suami. Kalau datang, bahkan den­gan menakut-nakuti saya dan keluarga," kata Lisnawati saat ditemui Rakyat Merdeka di ke­diamanya, di Kecamatan Julok, Aceh Timur.

Selama sang suami dalam persembunyian, Lisnawati harus berjuang sendiri memberi nafkah bagi ketiga anaknya. Seperti apa kisahnya, berikut wawancara lengkapnya:


Bagaimana perasaan Anda selama menjadi istri Din Minimi yang selama ini dike­nal sebagai pemberontak di Aceh?
Takut. Gimana nggak takut. Keluar-pergi ke rumah, diancam, ditanya ini itu, nggak tahu ba­gaimana mau kasih alasan.

Biasanya seperti apa kalau petugas interogasi Anda dan keluarga?

Biasanya ada mobil datang ke rumah. Misalnya pernah ada delapan unit mobil Avanza masuk ke sini. Pergi ke rumah, gertak-gertak saya. Ada yang pernah ditarik-tarik ke jalan. Coba tanya sama orang sini. Diambil HP, cukup berat kami diancam. Kalau di rumah, apa yang ada dihancurkan. Foto mereka yang dilekat di dinding dirobek dilepas.

Berarti barang-barang pribadi, misalnya hand phone juga ikut diambil petugas?
Kalau HP banyak sudah diam­bil. Dulu ada yang sampai empat biji (unit) diambil. Motor tiga sudah diambil. Motor di sana ditemukan, di pondok dalam hutan. Motor itu untuk belanja-belanja, jadi nggak bisa bawa tu­run lagi, waktu mereka (aparat) sudah naik Gunung. Motor Vixion sama Supra X masih bagus, kalau Honda Grand sudah tua. Waktu antar-antar bahan makanan.

Anak-anak juga dapat per­lakuan yang sama?
Iya. Bahkan anak-anak saya sudah trauma. Anak yang ketiga (perempuan) yang cukup takut lihat mobil-mobil orang itu. Dia teriak kuat-kuat, lari entah kemana kalau ada mobil masuk ke sini. Lihat mobil parkir sep­erti itu saja takut dia. Takut itu polisi. Nggak bisa lihat dia itu, langsung pucat. Nggak tahu tadi itu kemana pergi.

Sebagai istri Din Minimi, tentunya Anda pasti akan ditanya di mana keberadaan suami. Lantas apa jawaban Anda saat itu?
Tinggal saya bilang ke poli­si, mana saya tahu, dia sudah lari. Nggak mungkin dia (Din Minimi) diam di situ menyer­ahkan diri. Saya memang nggak lari, memang rumah saya di sini. Nggak tahu lagi mau bilang apa mereka. Ada yang ketawa, ada yang sorak, apa yang mereka bil­ang, ada saja yang saya jawab.

Tapi selama Din Minimi sembunyi di dalam hutan, apakah Anda pernah menemuinya?
Iya. Saya sudah menemuinya di beberapa tempat. Bila diminta bertemu di gunung, maka saya ke sana, begitu juga di hutan.

Hampir semua hutan, sudah tahu jalannya semua. Sendiri saya pergi dengan motor. Saya taruh motor di hutan, lalu saya jalan kaki. Sampai polisi datang ke rumah, terus saya diancam.

Anda sendiri mendukung tindakan yang dilakukan Din Minimi?
Gimana nggak mendukung, sampai ke dalam-dalam hutan saya masuk. Suami kita, masa nggak kita dukung. Saya men­dukung karena dia berjuang untuk anak yatim, janda korban konflik, fakir miskin, supaya juga sejahtera. Jangan orang lain saja yang makan daging waktu Meugang (jelang lebaran-red). Mereka harus senang juga. Bukan untuk makan sendiri. Kalau dia berjuang untuk sendiri, sudah kaya mungkin. Nggak seperti ini rumah saya.

Anda pernah protes dengan tindakan suami?
Saya pernah tanya, untuk apa berjuang seperti ini. Kata dia, untuk anak yatim, untuk istri mantan kombatan yang sudah meninggal yang tidak dipedu­likan. Terutama seperti dirinya sendiri, ayahnya nggak tahu kemana (kuburan). Ayahnya meninggal nggak tahu di mana kuburan. Sekarang (bekas kom­batan) yang kaya, kaya terus. Yang miskin, miskin terus.

Waku suami hidup dalam pelarian, bagaimana Anda mencukupi kebutuhan keluarga?
Waktu anak saya sudah umur 10 bulan, saya sudah pergi menyadap getah (karet). Tapi sekarang nggak lagi. Sekarang beli-beli sawit (agen) yang orang bawa. Ada yang kita tanam juga sedikit, waktu sudah mulai aman, damai dulu. Sebelum kejadian ini, sawit itu ditanam. Sebelum masuk ke hutan. Ada sekitar dua hektar.

Kenapa Anda begitu se­tia dengan suami, padahal hidup dalam teror dan harus menghidupi kebutuhan anak-anak sendiri lagi?
Mungkin karena dia nggak pernah marah sama saya, ng­gak pernah bertengkar. Nggak pernah mukul. Nggak pernah selingkuh. Pokoknya selama ini saya lihat seperti itu, ke depan saya nggak tahu. Mungkin mau kawin beberapa orang lagi. Kita nggak tahu.

Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang membuat Anda jatuh cinta dengan Din Minimi sehingga dulu bersedia dinikahi?
Dia itu sangat baik sebe­narnya. Walaupun nggak ada untuk dia, untuk orang lain tetap diberikan. Kan nggak mungkin kita lihat saja anak yatim kalau nggak ada beras, nggak ada ikan (lauk pauk), walaupun ng­gak diperhatikan setelah waktu masa GAM dulu. Nggak tega kita. Saya walaupun miskin, tapi orang ke rumah nggak pernah sepi. Apa yang ada makan terus di sini.

Sekarang, Din Minimi su­dah menyerah dan kembali pada keluarga. Lantas, apa harapan Anda?

Saya minta ya kalau bisa dipercepat lah amnesti, jangan sampai berlarut-larut. Karena tindakan yang suami saya laku­kan bukan untuk niat jahat. Suami saya sampai berlama-lama lari ke hutan, itu untuk kebaikan. Dia usaha untuk ke­baikan, bukan untuk hal-hal yang buruk. Kalau buruk, nggak mungkin seperti ini.

Sudah empat tahun dikejar-kejar polisi, tapi berkat perto­longan Tuhan nggak pernah ke­temu. Diselamatkan oleh Allah. Saya harap, Bang Din bisa kem­bali menjadi masyarakat biasa. Jangan lagi ke hutan, seperti dulu bertahun-tahun.

Khusus untuk anak-anak, apa harapan Anda ke depan?
Saya mau dia masuk pesantren. Buat apa sekolah tinggi-tinggi sampai ke langit, terus kita nggak diingat lagi. Jadi ustadz saja. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya