Berita

net

Hukum

KKP Gagalkan Ekspor Mutiara Ilegal Senilai Rp 45 Miliar

SELASA, 12 JANUARI 2016 | 22:25 WIB | LAPORAN:

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Kementerian Keuangan menggagalkan upaya penyelundupan mutiara secara ilegal.

Harga mutiara ilegal yang diketahui milik CV SBP itu ditaksir mencapai Rp 45 miliar dengan kisaran harga Rp 400 ribu per gram. Direncanakan mutiara dengan total berat 114 kilogram itu akan diselundupkan ke Hongkong dengan dikemas dalam lima kotak kayu.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti menduga masih banyak praktik gelap dalam kegiatan ekspor impor mutiara. Menurutnya, Australia mengklaim 13 persen produksi mutiara dari South Sea Pearl, maka Indonesia sisanya sekitar 80 persen. Apabila hal itu benar terjadi dipastikan uang yang mengalir secara ilegal begitu banyak keluar masuk Indonesia.


"Kalau Australia nilainya itu USD 22 juta, kita harusnya enam kalinya, ini pasti ilegalnya lewat laut atau lewat udara. Tapi saya belum lihat yang hitam-hitam dari Timur Papua dan itu lebih mahal lagi. Ini adalah PR (pekerjaan rumah)  kita. Kita mau bersaing dengan MEA tapi kebanjiran barang impor ilegal, ekspor ilegal," jelas Susi kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta (Selasa, 12/1).

Dia menjelaskan, pengungkapan ekspor mutiara ilegal itu berawal dari CV. SBP yang mengajukan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) pada 2 Desember 2015. Barang tersebut diajukan sebagai beads atau manik-manik yang dikemas dalam kotak kayu dengan berat 116,5 kilogram.

Pengiriman dilakukan dengan menggunakan konsolidator (LCL). Namun, dari informasi KKP dan hasil analisa intelijen terindikasi adanya pelanggaran berupa pemalsuan dokumen, yakni barang tidak sesuai dengan dokumen PEB.

"Menindaklanjuti informasi tersebut diterbitkan Nota Hasil Intelijen (NHI) dan dilakukan pemeriksaan fisik serta uji laboratorium oleh Balai Pengujian Identifikasi Barang (BPIB). Hasil uji menyatakan bahwa barang tersebut merupakan jenis mutiara budidaya dari laut yang belum diolah," tambah Susi. [wah] 

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya