Berita

Bisnis

Pemerintah Harus Tetapkan Syarat Ketat Perpanjangan Izin Ekspor Konsentrat Freeport

SELASA, 12 JANUARI 2016 | 08:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah diminta untuk menetapkan syarat ketat kepada Freeport sebelum memberikan izin ekspor konsenterat kepada perusahaan asal Amerika Serikat itu.

"Pertama, pemerintah harus meminta uang jaminan pembangunan smelter yang harusnya sesuai progres minimal 50%. Kita minta pemerintah memaksa Freeport memberikan dana 1 miliar dolar AS kepada pemerintah sebagai jaminan pembangunan smelter yang saat ini masih 0%,"  kata Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean (Selasa, 12/1).

Kedua, tambah Ferdinand, pemerintah harus memaksa Freeport membayar deviden yang belum dibayarkan sejak 4 tahun lalu. Jika syarat ini dipenuhi maka izin ekspor konsentrat boleh diberikan.


"Ketiga, jika kedua syarat ini tidak dipenuhi maka pemerintah harus menetapkan bea keluar sebesar minimal 15% untuk ekspor konsentrat Freeport dengan tambahan sanksi keras tidak akan melanjutkan operasi Freeport di Papua pasca 2021," sambung Ferdinand.

Ferdinand mengatakan tindakan ini sangat penting diambil untuk menunjukkan bahwa negara ini adalah pemilik sumber daya alam yang sah, dan berdaulat serta tidak bisa didikte oleh siapapun.

Dikatakan Ferdinand, izin ekspor konsentrat Freeport kembali akan berakhir pada akhir Januari 2016. Sesuai kesepakatan dalam MoU, semestinya Freeport sudah harus mengajukan permohonan perpanjangan ijin ekspor konsentrat kepada pemerintah.

Perpanjangan ijin ekspor ini dilakukan setiap 6 bulan mengacu pada MoU antara pemerintah dengan Freeport dengan syarat ada kemajuan dalam progres pembangunan smelter. Namun nyatanya Freeport tidak pernah menunjukkan niat baiknya untuk pembangunan smelter tersebut sebagai amanat dari UU Minerba No 4 tahun 2009.

"Kami minta Presiden Joko Widodo membuktikan keberpihakan pada bangsa dan tidak sekedar berbasa basi tentang nasib Freeport ini. Rakyat perlu tindakan konkret dari presiden, bukan cuma kata-kata yang menghibur," tukas Ferdinand.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya