Berita

joko widodo/net

Politik

‎Jokowi Diminta Prioritaskan Figur Non Parpol Di Reshuffle Kadua

SELASA, 12 JANUARI 2016 | 01:32 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Presiden Joko Widodo diminta untuk memprioritaskan menteri dari kalangan non partai politik di beberapa kementerian strategis pada reshuffle kabinet jilid kedua. Jalurnya bisa melalui profesional maupun birokrat karir dari internal kementerian.‎

"Beberapa kementerian mempunyai fungsi yang krusial dan strategis, sehingga harus steril dari kepentingan partai politik," kata pengamat politik dari UIN Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago kepada redaksi, Selasa (12/1).‎

‎Menurutnya, reshuffle kali ini adalah momentum untuk mengurangi dominasi partai politik di kabinet. Dengan begitu kerja pemerintah bisa lebih optimal dan tidak masuk dalam pusaran konflik kepentingan.‎


‎Jelas Pangi, beberapa kementerian atau lembaga strategis yang harus steril dari kepentingan partai politik di antaranya adalah Kejaksaan Agung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, Kementerian Sosial, serta Kementerian Keuangan.‎‎

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan misalnya, sangat berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Karena itu, Presiden harus pilih sosok yang tepat. Jangan biarkan kepentingan politik justru dominan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.‎‎

‎"Bencana kebakaran hutan dan asap 2015 lalu serta kalahnya gugatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan senilai Rp. 7,9 T terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH), adalah bukti kepemimpinan kader parpol yang tidak optimal untuk sektor penting dan strategis," ungkap Pangi.‎

‎Presiden Jokowi harus menggunakan hak prerogatifnya tanpa terpengaruh nama-nama yang diajukan partai. Apalagi sekarang beredar banyak nama dari kalangan partai koalisi untuk beberapa kementerian strategis tersebut.‎‎

‎"Jangan sampai menteri non parpol diganti kader parpol, atau menteri kader parpol diganti kader parpol lagi walaupun dari partai yang berbeda. Jangan sampai reshuffle menjadi pintu masuk memperbanyak menteri parpol, lebih kental aroma politisnya.  Kalau begini kemunduran namanya," ujar Pangi menekankan.‎‎

‎"Jalur birokrat karir di internal bisa jadi salah satu pilihan. Saya yakin dan percaya, pasti ada birokrat karir yang mampu mengemban tugas menjadi menteri. Sosok yang bebas kepentingan politik dan memahami masalah sektoral  dan fundamental di kementeriannya serta sudah terbiasa melakukan komunikasi politik di DPR," kata dia menambahkan.‎‎

‎Masih, kata Pangi, masyarakat tentu mendukung sepenuhnya pernyataan Presiden pekan lalu yang secara tegas menolak intervensi pihak manapun dalam reshuffle kali ini, termasuk  intervensi partai politik yang terkesan mendikte Presiden.‎

‎"Presiden harus membuktikan komitmennya untuk tidak terpengaruh oleh tekanan dari pihak manapun dalam reshuffle ini, termasuk tekanan partai politik. Kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan ketimbang kompromi politik," imbuhnya.‎‎

‎Ia menambahkan, pilihan lain untuk mengoptimalkan kinerja menteri adalah menambah pos wakil menteri di beberapa kementerian strategis seperti Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian PU Pera dan Kementerian ESDM.‎‎

‎"Beberapa kementerian rentang kendalinya sangat luas. Penambahan pos wakil menteri secara terbatas di beberapa kementerian sebaiknya dipertimbangkan Presiden agar kinerja kabinet bisa maksimal dan efektif," demikian Pangi yang juga peneliti politik IndoStartegi. [rus]‎

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya