megawati soekarnoputri/net
. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekaernoputri membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP 2016 di Hall D Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (10/1). Rakernas dengan tema 'Mewujudkan Trisaksi dengan Pembangunan Nasional Semesta Berencana' ini juga sekaligus memperingati HUT ke-43 PDIP.
Megawati bercerita, pemilihan langsung terjadi atas keputusan MPR saat itu, dan ketika dia menjabat sebagai Presiden RI Kelima.
Jelas dia, pemilihan langsung semestinya dipahami sebagai tatacara pemilihan untuk mendekatkan rakyat kepada calon pemimpinnya. Namun sayang sekali, praktek demokrasi oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat ini, di dalam pelaksanaanya, direduksi menjadi sekedar pertarungan visi misi lima tahunan.
"Ganti orang, ganti visi misi. Ganti pemimpin, ganti pula visi misi. Saya sering berseloroh inilah, produk pemilihan langsung: "pemimpin visi misi" lima tahunan," kata Megawati.
Oleh karena itu, lanjut putri Bung Karno ini, sudah saatnya visi misi personal dan kedaerahan tersebut diubah dengan suatu konsep pembangunan nasional jangka panjang. Bahkan seharusnya, kita mampu merancang sampai seratus tahun ke depan. Rancangannya pun tidak boleh berganti hanya karena pergantian pemimpin.
Dan sudah saatnya bangsa ini memiliki sebuah haluan pembangunan nasional jangka panjang, sebuah rencana berupa pola pembangunan nasional di segala bidang kehidupan negara dan masyarakat; membangun serentak dalam bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan kebudayaan, juga yang tak kalah penting: bidang spiritual.
"Kesemuanya harus ada dalam satu integrasi dan sinergitas antar pulau, antar daerah, untuk menjadi Indonesia Raya," terang Megawati.
Megawati menambahkan, Indonesia Raya yang hanya bisa lahir dengan "overall planning" atau perencanaan menyeluruh, yakni suatu perencanaan yang tidak berdiri sendiri. Suatu perencanaan semesta yang tidak hanya diletakkan untuk lima tahunan masa jabatan eksekutif daerah maupun pusat. Pembangunan Semesta membutuhkan perencanaan semesta, guna melihat Indonesia secara utuh; memotret Indonesia dalam satu ke-Indonesia-an yang tak bercerai berai. Dasar yang dipergunakan adalah kebutuhan dan kepribadian rakyat Indonesia sendiri.
"Artinya, perencanaan yang dibuat tidak untuk meniadakan nilai-nilai kearifan lokal dan potensi di masing-masing daerah. Bahkan sekiranya diperlukan, pengalaman dalam pembangunan di luar negeri, dapat diselaraskan dan dipadukan untuk kepentingan dalam negeri," demikian Megawati.
[rus]