Berita

Hasyim Muzadi:net

Wawancara

WAWANCARA

Hasyim Muzadi: Ring Pertempuran Timur Tengah Sunni-Syiah Jangan Berpindah Ke Indonesia

SABTU, 09 JANUARI 2016 | 08:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pertikaian antara dua negara Timur Tengah, Saudi Ara­bia vs Iran makin memanas, pasca pemerintah Arab Saudi mengeksekusi ulama Syiah. Untuk memadamkan perseteruan itu, Kiai Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi mendukung Indonesia turut mendamaikan. Namun pemerintah juga harus membentengi diri su­paya ring pertarungan Timur Tengah tidak berpindah ke negeri kita. Bekas Ketua Umum PBNU ini khawatir konflik dua negara yang dilatarbelakangi ideologi itu bakal merembet ke Indonesia. Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Hasyim Muzadi;

Konflik Arab Saudi vs Iran makin memanas, Anda me­nilai apakah perlu Indonesia menjadi turun tangan menjadi penengah?
Sangat baik kalau Pemerintah Indonesia ikut berusaha men­dorong perdamaian Saudi-Iran. Karena sesuai preambul UUD 45 perihal ikut menyelenggara­kan perdamaian dunia. Namun yang lebih pokok adalah perlu­nya Indonesia mengatur langkah konkret guna mengamankan Indonesia sendiri dari kemung­kinan dampak pertikaian itu.

Apa perlu sampai sede­mikian langkah yang mesti kita ambil?

Apa perlu sampai sede­mikian langkah yang mesti kita ambil?
Oh iya. Saudi dan Iran ada­lah dua kutub ideologi yakni Wahabi atau Sunni dengan Syiah. Masalahnya, masing-masing kutub punya pendukung transnasional. Negara seperti Sudan, Kuwait, Malaysia dan Brunei Darussalam dipasti­kan segera mendukung Saudi karena negara-negara tersebut melarang Syiah di negara mer­eka. Sedangkan Irak, Syria, Libanon, dan Yaman Utara ke­mungkinan mendukung Iran.

Kalau Indonesia, menurut Anda?
Di Indonesia, dua aliran yang musuh bebuyutan ini, massif sekali aktivis dan jaringannya. Sehingga yang diperlukan ada­lah menjaga bagaimana supaya Indonesia tidak menjadi ring pertempuran dua kepentingan ini.

Apakah seberbahaya itu?
Selama pertentangan ideologi itu masih dalam kerangka wa­cana, akibatnya akan terbatas pada pertentangan psycho sosial. Namun apabila kemudian ber­sentuhan dengan politik, perebu­tan kekuasaan, apalagi menjadi bagian dari pertentangan global dan campur tangan negara-negara super power, eskalasinya bisa jadi lain.

Akibatnya?
Masalah ideologi visioner Islam itu akan tenggelam ber­ganti dengan kepentingan poli­tik, hegemoni ekonomi , kepent­ingan-kepentingan kawasan dan sejenisnya. Jadi perlu diperhati­kan, ini tidak lagi bisa disebut semata masalah ideologi.

Yang paling parah misal­nya?
Perang terbuka bisa terjadi di Indonesia seperti di Iraq dan Syria pada waktu yang akan da­tang, kalau kita tidak waspada.

Apa mungkin sampai sede­mikian ngeri?

Kerapuhan ketahanan na­sional kita baik intern mau­pun menghadapi serangan dari luar. Pelaksanaan Hak Asasi Manusia yang melebihi ukuran, liberalisasi politik dan ekonomi serta budaya kegaduhan sesama pembesar. Semuanya itu tentu melengkapi kerawanan yang bisa terjadi.

Apa solusinya?
Oleh karenanya Indonesia harus memperkuat ideologi Pancasila yang sekarang mulai remang-remang. Penegakan Pancasila tidak cukup dengan imbauan, namun harus dengan sistem kenegaraan yang menja­min tegaknya Pancasila. Serta perlu dukungan rakyat melalui visi keagamaan yang sinergi dengan Pancasila dan dianut mayoritas bangsa Indonesia yakni ahlusunah waljamaah.

Bagaimana dengan peranorganisasi masyarakat (Ormas)?

Peran dua organisasi be­sar Indonesia yang berbasis Ahlussunahwaljamah yang selama ini dianut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dan lainnya telah terbukti dapat mempersatukan Indonesia sepa­njang sejarah. Oleh karenanya NU dan Muhammadiyah harus dijaga agar tidak disusupi dan di­gerogoti ideologi non ahlussuna wal jamaah yang pasti memecah belah dan pada gilirannya akan merusak NKRI.

Jadi tidak perlu nih ikut campur lebih dalam konflik Saudi-Iran?

Untuk pertikaian Saudi-Iran, secara makro saya kira yang bisa menyelesaikan adalah dua negara adidaya, yakni Amerika dan Rusia. Hanya dalam kon­teks keanggotaan PBB, ya tentu kita ikut mendorong. Namun selebihnya, yang paling penting adalah kita perkuat dan mem­bentengi Indonesia. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya