Berita

foto: humas mpr

Ketua MPR: Rekayasa Sosial Bukan Rasisme Dan Diskriminatif

RABU, 06 JANUARI 2016 | 15:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Di berbagai negara di dunia masalah ketimpangan perekonomian antara yang kaya dan yang miskin sangat tinggi begitu pula yang terjadi di Indonesia. Permasalahan tersebut berefek domino kepada berbagai kejahatan yang terjadi seperti kriminalitias, radikalisme dan kerusuhan sosial. Hal ini sangat berbahaya sekali jika didiamkan tanpa ada upaya membenahinya.

Demikian disampaikan Ketua MPR Zulkifli Hasan saat menerima audiensi Pengurus Besar (PB) Al Jam'iyatul Washliyah di ruang kerjanya, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/1). Zulkifli juga mengungkapkan bahwa masalah tersebut muncul saat berbincang dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak belum lama ini.

Dalam perbincangan tersebut, menurut Zulkifli, Najib Razak mengatakan bahwa di Malaysia sejak lama sudah melakukan apa yang disebut rekayasa sosial. Mengapa rekayasa sosial tersebut dibuat, sebab warga bumiputera atau warga pribumi kalau tidak dibantu tidak akan bisa maju, mereka akan tertinggal jauh dengan yang lain.


Pemerintah Malaysia membantu para bumiputera untuk maju dalam segala hal seperti perekonomian dan pendidikan. Pengusaha bumiputera membuat proprosal usaha dibantu oleh manajemen perbankan pemerintah. Pendidikan gratis dan rutin mengirimkan pelajar ke luar negeri untuk sekolah. Menurut Najib Razak semua itu dilakukan bukan mengimplementasikan rasisme atau diskriminatif tapi sebagai bentuk memunculkan kesetaraan dan keadilan.

"Najib Razak bicara pada saya ini masalah kesetaraan dan keadilan. Bagaiaman kalau satu kaya satu miskin tidak bisa damai nanti. Najib Razak bertanya bagaimana dengan Indonesia? Nah itu yang belum. Saya rasa ini sangat bagus rekayasa sosial membantu kaum yang berada di garis kemiskinan untuk terjadinya kesetaraan dan keadilan sosial," ujarnya.

Jika pemerintah melakukan rekayasa sosial untuk membantu pribumi, lanjut Zulkifli, dimaksudkan agar terjadi kesetaraan dan keadilan bukan diartikan hanya memikirkan golongan masyarakat tertentu atau melakukan diskriminasi atau rasisme. Ketimpangan perekonomian diupayakan jangan sampai jauh seperti langit dan bumi contohnya jangan sampai masyarakat kota makan enak setiap hari tapi masyarakat pinggiran bahkan tidak makan sama sekali.

"Intinya harus ada kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kalau kita makan roti, masyarakat lain juga harus sama setidaknya makan layak.  Ini bukan soal hanya memikirkan suku tertentu saja atau soal ras tapi soal kesetaraan dan keadilan dan pengamalan Pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," imbuhnya.

Jadi kalau pemerintah memikirkan lebih ke pribumi atau melayu bukan berarti pemerintah tidak memikirkan yang lain tapi pemerintah sedang berupaya melakukan prinsip kesetaraan antar warga bangsa.  Bisa dibayangkan jika ada masyarakat yang sangat miskin, tidak ada harapan sedangkan di sisi lain ada masyarakat yang bergelimang kenikmatan hidup, maka akan terjadi tindakan kriminal dan melakukan kerusuhan.

"Kita harus memutus rantai kemiskinan dengan membantu mereka yang miskin agar setara. Coba bayangkan, keluarga miskin akan menikahkan anaknya sesama miskin karena memang tidak mampu menikah jika memerlukan modal yang besar.  Karena miskin, anak-anaknya juga tidak akan sekolah nantinya, setelah besar akan miskin pula.  Nah..rantai kemiskinan ini harus kita putus dengan rekayasa sosial," tandasnya.

Kepada delegasi PB Al Jam'iyatul Washliyah, Zulkifli Hasan berpesan agar masalah ini dipikirkan dan perlu tindakan nyata dan perlu kerjasama dan kordinasi yang baik antar organisasi Islam, sebab banyak sekali umat Islam yang mayoritas berada di garis kemiskinan. Mulai sekarang jangan antar sesama muslim saling bertengkar, pikirkan dahulu kesejahteraan umat. Jangan bicarakan dan cari-cari perbedaan lagi tapi carilah persamaan.

Ketua Umum PB Al Jam'iyatul Washliyah Yusnar Yusuf sangat mengapresiasi pesan dan ajakan Ketua MPR untuk mencari persamaan dan menghindari bicara perbedaan demi umat Islam secara keseluruhan.

"Dalam kesempatan ini kami juga mengundang Ketua MPR RI untuk hadir dan menajdi keynote speech dalam Rakernas kami yang akan kami selenggarakan pada akhir bukan Januari 2016 nanti di Kopo Jawa Barat," ujarnya.

Dalam kepengurusan organisasi, Yusnar mengungkapkan akan dibicarakan program-program organisasi yang bekerja sama dengan lembaga MPR RI seperti Sosialisasi Empat Pilar MPR.

"Program MPR RI tersebut sangat baik buat organisasi dan anggota-anggota organisasi untuk lebih memahami kembali tentang nilai-nilai luhur bangsanya," tukasnya. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya