Berita

Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman:net

Wawancara

WAWANCARA

Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman: Mengapa Anggota DPR Yang Terhormat Lakukan Hal Seperti Itu Ke Aparat Hukum

RABU, 06 JANUARI 2016 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Her­man Hery sepakat berdamai dengan Kepala Subdirektorat III Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) Ajun Komisaris Besar Albert Neno. Kesepakatan damai terkait dugaan penganca­man dalam penyitaan miras ini tercapai usai pertemuan dengan Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Syahrul Mama di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Namun menurut sesepuh Polri Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman, kasus ini harus tetap diproses hukum. Alasannya untuk menjaga kewibawaan masing-masing institusi. Berikut penjelasan Kapolda Metro Jaya 1998/1999 ini.

Albert Neno memaafkan Herman tapi tetap ingin proses hukum berlanjut. Tanggapan Anda?
Ini hak yang bersangkutan un­tuk mencabut atau tidak laporan tersebut. Tapi bagi saya, yang terpenting bukan soal cabut-mencabut.

Ini hak yang bersangkutan un­tuk mencabut atau tidak laporan tersebut. Tapi bagi saya, yang terpenting bukan soal cabut-mencabut.

Pertanyaannya, mengapa ka­sus ini harus terjadi dan (penghi­naan) dilakukan oleh Anggota DPR yang terhormat kepada pejabat institusi hukum yang sama-sama mengemban pe­layanan bagi rakyat.

Apa pesan Anda kepada Irwasum dan Propam Polri dalam penyelidikan kasus ini?
Saya yakin mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Obyektif dan tidak perlu menu­tup-nutupi ataupun menyalahkan.

Konon Herman Hery orang kuat. Apa bisa Bareskrim independen?
Wah masalah ini saya tidak terlalu tahu. Kalau benar ya masyarakat lah yang nanti menilai semuanya. Di alam demokrasi, salah satu tonggak utama adalah penegakan dan taat hukum. Jadi bukan hanya Bareskrim saja yang harus independen tetapi semua aparat pemerintah justru harus memperlihatkan indepen­densinya.

Anda kenal Herman Herry?
Saya tidak terlalu mengenal yang bersangkutan. Yang pent­ing suasana Tahun Baru 2016 ini jangan dibuat gaduh.

Miras yang disita diklaim Hery legal atau berizin. Apakah polisi punya kewenangan menyita?
Saya tidak mau masuk ke hal yang teknis. Tapi setahu saya, polisi memiliki kewenangan un­tuk melakukan beberapa tinda­kan, baik yang bersifat preventif, preventif maupun represif.

Mengapa setelah disita, se­bagian barbuk (barang bukti) miras itu dikembalikan lagi oleh Polda NTT?
Hal ini dapat dimengerti dan dibenarkan. Yang penting, se­bagian barang bukti tetap berada di Kepolisian untuk keperluan persidangan kasusnya. Dan ba­rang bukti yang dikembalikan bilamana terkait kasus tersebut sifatnya hanya pinjam-pakai dan tidak boleh diperjualbeli­kan selama belum disidangkan. Penjelasan ini kalau barang bukti tersebut tidak dilengkapi dengan legalitas surat-surat.

Banyak yang menduga penyitaan miras jelang ta­hun baru tersebut berdasar­kan motif lain seperti uang. Benarkah?
Saya tidak mengetahui motif aslinya apa. Kalau penyitaan tersebut dilatarbelakangi untuk kepentingan keamanan dan ketenangan menjelang Tahun Baru, hal ini dapat saya benar­kan.

Tapi jangan seolah-olah un­tuk kepentingan keamanan kita melakukan tindakan represif padahal sebenarnya tujuannya adalah untuk kepentingan yang sifatnya materi.

Bukankah bisnis ilegal seperti miras ini biasa ada bekingnya?

Kondisi di lapangan apapun bisa terjadi. Yang penting pengawasan, baik dari masyarakat maupun internal, tetap harus diperketat dan diselesaikan ses­uai aturan, undang-undang serta hukum yang berlaku.

Tentang keamanan nasional di tahun 2016, harapan Anda seperti apa?
Kita berharap dan berdoa ber­sama, semoga di tahun 2016 ini akan lebih baik lagi. Justru per­masalahan menyangkut ekonomi, politik dan etnislah yang akan sangat mempengaruhi kondisi keamanan nasional. Untuk itulah kita perlu menjaganya, jangan dibuat gaduh.  ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya