Berita

Rachmawati Soekarnoputri/net

Mbak Rachma: Kasus Lino Dan Novanto Antitesis Kasus BG

SENIN, 04 JANUARI 2016 | 11:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kasus RJ Lino di PT. Pelindo II dan Setya Novanto dalam kasus cawe-cawe saham PT. Freeport Indonesia adalah pesanan dan konflik antar geng. Dua kasus itu tidak murni masalah delik tapi lebih rekayasa saling terkam antar oligarki rezim.

Demikian penilaian politisi senior yang juga pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri kepada redaksi, Senin (4/1).

Menurutnya, kasus Lino dan Novanto adalah antitesis dengan kasus Budi Gunawan. BG sudah jadi oleh KPK namun bisa "diloloskan" dari jerat hukum karena campur tangan kekeuasaan.


"Jelas, kasus rekening gendut dan grafitikasi terjadi saat BG menjadi ajudan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI Kelima) dan bersamaan kasus skandal BLBI. BG punya kedekatan dengan Megawati, jadi patut dicurigai dari mana akumulasi uang Rp 29 miliar, dan anaknya yang usianya masih sangat muda punya Rp 25 miliar," ungkap Mbak Rachma sapaan akrab Rachmawati.

Ia menyebutkan, kasus BG bukan karena aturan hukum yang lemah, tapi karena ada intervensi kekuasaan, dalam hal ini bos partai punya kepentingan dengan BG, ditambah Presiden Jokowi tidak independen. Jika dia tidak tersandera kasus pasti perintah "usut tuntas".

Dengan demikian, lanjut Mbak Rachma, akibatnya korps Bhayangkara jadi enggan dan terkendala membersihkan korpsnya sendiri. Bahkan KPK dihabisi, sehingga tidak berani bikin sprindik baru BG. Ini menyebabkan citra Polri babak belur dan tidak ada wibawa marwahnya.

"Lanjut terbukti kriminalitas makin marak, hukum rimba karena citra polisi melindungi tersangka. Publik tidak akan percaya institusi ini (Polri). Apa masih mau gadang-gadang seorang tersangka jadi Kapolri? Nauzubilah min zalik," tukas Mbak Rachma. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya