Berita

PEMBAKAR HUTAN

Alasan Hakim Tak Bisa Diterima, Pemerintah Wajib Banding

SENIN, 04 JANUARI 2016 | 09:41 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan wajib mengajukan banding atas putusan Pengadilan Negeri Sumatera Utara terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BHM).

Alasan penolakan majelis hakim bahwa kebakaran hutan tidak merusak lantaran bisa ditanami lagi sangat aneh dan tidak bisa diterima.

Saran tersebut disampaikan pengamat politik senior Muhammad AS Hikam. Bahkan kata Hikam, kalau perlu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengajukan kasasi atas keputusan majelis hakim yang dipimpin Parlas Nababan tersebut.


Selain itu Hikam, dalam akun facebooknya tadi malam (Senin, 4/1), juga mengatakan wajib hukumnya bagi Komisi Yudisial (KY) untuk melakukan penyelidikan terhadap para hakim.

"Demikian pula, jika memang ditemukan ada kongkalikong antara hakim tersebut dengan para pembakar hutan, yakni perusahaan-perusahan besar yang menjadi pihak tergugat, maka harus pula diambil tindakan hukum yang tegas," kata Hikam.

Hikam prihatin karena oknum hakim dari yang paling bawah sampai paling atas semakin sering menampilkan diri bukan sebagai penegak dan pelindung hukum yang adil dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Diberitakan, hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang menolak seluruhnya gugatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH) yang beroperasi di Ogan Komering Ilir (OKI), Rabu, (30/12).

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menuntut ganti rugi sebesar Rp 2.687.102.500.000 dan meminta dilakukan tindakan pemulihan lingkungan terhadap lahan yang terbakar dengan biaya sebesar Rp. 5.299.502.500.000.

Gugatan ini dilakukan didasari adanya kebakaran lahan pada tahun 2014 di lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT BMH.[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Kumpulkan Ratusan Pengurus Kadin se-Indonesia di Istana

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26

Larangan Dapur MBG Gunakan Barang Bersubsidi Sudah Tepat

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25

Cegah Gagal Panen, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:03

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekonomi Hijau

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:53

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dinilai Paling Siap, Palangka Raya jadi Percontohan Digitalisasi Perlinsos Berbasis IKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:33

Praperadilan Ketiga Roy Suryo, Ahli Perkuat Dalil Permohonan Ganti Rugi Rp206 Juta

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:32

Jakarta Gandeng Banten Bangun Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:27

Digitalisasi Perizinan Tutup Celah Perdagangan Satwa Liar Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

IHSG Sesi I Menguat 29 Poin, Saham TINS DEWA dan BBCA Paling Memikat Investor

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

Selengkapnya