Berita

ilustrasi/net

Pertarungan Blok Masela Dan Tekanan Terakhir Kubu JK

MINGGU, 03 JANUARI 2016 | 23:45 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di awal tahun 2016 suhu politik di internal pemerintahan diramalkan belum akan mereda. Pekan pertama tahun ini akan diwarnai pertarungan sengit antara dua kubu yang belakangan kerap bertikai.

Masih segar di ingatan publik bagaimana di tahun 2015 yang baru berlalu, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli berhasil mematahkan keinginan sepihak Menteri ESDM Sudirman Said untuk memperpanjang kontrak karya Freeport Indonesia.

Kepretan Rizal Ramli yang menggagalkan manuver Sudirman Said pun sedikit banyak ikut mempengaruhi kekuatan posisi James Moffet yang akhirnya mengundurkan diri dari pucuk pimpinan Freeport McMoran.


Di pekan pertama 2016 Rizal Ramli dan Sudirman Said yang didukung Wapres Jusuf Kalla akan bertarung dalam isu pengelolaan kilang LNG Blok Masela.

Mengingat dalam "pertarungan" sebelumnya terkait kontrak karya Freeport kubu JK dan SS menelan pil pahit kekalahan, diperkirakan dalam isu pengelolaan Blok Masela mereka akan bertarung habis-habisan.

Bagi kubu JK dan Sudirman Said, bila kembali menelan kekalahan, posisi mereka di Kabinet Kerja akan terancam. Sangat mungkin Sudirman Said akan terpental, dan itu berarti kekuatan JK akan berkurang.

Dalam rapat terbatas di pekan terakhir 2015 lalu, Presiden Joko Widodo memberikan kesempatan kepada Rizal Ramli dan Sudirman Said untuk mengadu konsep mereka terkait pengelolaan Blok Masela.

Sudirman Said selama ini menginginkan agar kilang LNG Blok Masela dikelola dengan menggunakan konsep Floating LNG. Keinginan Sudirman Said nyaris terpenuhi. Namun berantakan dan kembali ke titik nol setelah Presiden Jokowi mengundang Rizal Ramli masuk kabinet pada pertengahan Agustus 2015.

Informasi yang dikumpulkan dari sementara kalangan yang mengikuti perdebatan di antara kubu RR dan kubu JK dalam rapat terbatas pekan lalu mengatakan, dari dinamika di dalam rapat sudah terlihat bahwa Presiden Jokowi cenderung memilih konsep pipanisasi darat seperti yang diusulkan Rizal Ramli dengan berbagai pertimbangan.

Usul ini juga disebutkan didukung Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas Sofyan Djalil, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Secara umum pipanisasi darat dinilai lebih murah, memberikan manfaat regional yang tinggi, serta memiliki rasio benefit dan cost yang lebih baik. Belum lagi, lapangan kerja sektor downstream seperti industri pupuk dan petro kimia akan terbuka lebar.

Namun kubu JK dan Sudirman Said tetap ngotot ingin mempertahankan konsep kilang terapung.

Selain Sudirman Said, dua peserta rapat terbatas lain yang bersikeras menolak dengan alasan-alasan teknis adalah Menristekdikti Mohamad Nasir dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi.

Alasan-alasan yang mereka gunakan untuk membandingkan aspek teknis pengelolaan Blok Masel dengan konsep pipanisasi di darat dan konsep kilang terapung dianggap sebagian peserta rapat terbatas sebagai lelucon yang tak lucu mengingat latar belakang pendidikan mereka adalah di bidang akuntansi.

Sedemikian tegang pertemuan yang digambarkan sebagai tekanan terakhir JK dan SS itu, sampai-sampai Presiden Jokowi terpaksa menghentikan. Dalam keterangan usai rapat terbatas, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, rapat akan dilanjutkan pekan ini. Presiden Jokowi berencana memanggil kontraktor asing yang digunakan Kementerian ESDM untuk ikut mengelola Blok Masela. Setelah itu, barulah Presiden Jokowi akan memutuskan apakah kilang Blok Masela dikelola dengan pipanisasi darat atau kilang terapung. [dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya