Berita

AM Putut Prabantoro/net

Putut Prabantoro: 2016 Tahun Bersih-bersih

RABU, 30 DESEMBER 2015 | 12:20 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Terkuaknya kasus "papa minta saham" Freeport merupakan hadiah paling berharga yang diterima rakyat Indonesia di penghujung tahun ke 70 usia kemerdekaan Republik Indonesia. Kasus itu bukan semata-mata soal pribadi pelakunya tetapi lebih terletak pada kenyataan negara dan kemerdekaannya disia-siakan oleh para penyelenggara negara sampai pada batas titik nadir. Negara Indonesia yang berdaulat dihancurkan bukan oleh bangsa asing tetapi oleh bangsa sendiri.
 
Oleh karena itu, memasuki tahun 2016 adalah penting bagi pemerintahan Joko Widodo untuk membentuk kembali nasionalisme Indonesia. Tahun 2016 dapat disebut sebagai "Tahun Pembentukan Kembali Bangsa" (Year Of Reshaping The Nation). Tahun ini perlu juga disebut sebagai "Tahun Bersih-Bersih'.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro, di Jakarta, Rabu (30/12).
 

 
"Apakah kita harus malu atau tidak, saya rasa, tidak ada bedanya dan tidak penting. Bangsa ini sudah tidak memiliki urat malu. Kasus "papa minta saham" merupakan puncak dari segala kebobrokan mental bangsa yang dilakukan oleh para penyelenggara negara yang berkolaborasi dengan para mafia yang meletakan martabat bangsa di kakinya," ujarnya.
 
Putut Prabantoro yang juga konsultan komunikasi politik ini menandaskan, bangsa Indonesia harus berterimakasih atas munculnya kasus-kasus mental bobrok sebelumnya dan yang berpuncak pada kasus "papa minta saham". Tidak ada gunanya juga memilih antara kasus besar ataupun kecil, demikian dijelaskan lebih lanjut, karena semuanya adalah virus yang menghancurkan dan bersifat menular.
 
Namun demikian, pertanggungjawaban kebobrokan dan kehancuran bangsa Indonesia adalah tanggung jawab semua termasuk rakyat yang dengan sukarela menyerahkan dan melancurkan dirinya untuk menerima uang pelicin dalam pilkada ataupun pemilu. Berbagai kasus korupsi, sebagai misal, yang muncul sejak jaman orde reformasi tidak pernah tertuntaskan dan para tokoh nasional saling menyandera demi kelanggengan hidupnya.
 
"Jika dihitung dari lahirnya orde reformasi, yang entah siapa yang memilikinya, mereka yang masuk ke perguruan tinggi saat ini adalah generasi yang menyaksikan huru hara politik yang tak kunjung usai dan yang melihat kasus kebobrokan mental tak pernah selesai. Dan mereka juga melihat, ketika muncul kasus "papa minta saham", para pemimpin partai dan pemimpin nasional tidak ada yang berkomentar soal ini. Di mana mereka? Mengapa tidak berkomentar?" tegas Putut Prabantoro menguraikan lebih lanjut.
 
Menurut perkiraannya, 2016 merupakan Year of Reshaping The Nation-Tahun Pembentukan Kembali Bangsa, karena sudah pasti akan terjadi gelombang bersih-bersih. Tahun depan, oleh Putut Prabantoro, akan disebut sebagai Tahun Bengawan Solo, yang oleh Gesang pencipta lagu tersebut, dilukiskan keindahan dan kehebatan sungai tersebut dengan mengatakan, airnya mengalir sampai jauh, mengalir sampai ke laut.
 
"Ketika terjadi bersih-bersih secara alami, diharapkan pemerintah Joko Widodo dapat melakukan pembentukan kembali bangsa Indonesia. Reshaping itu mengandung arti membentuk kembali, menghancurkan bentuk lama dan membentuk baru. Tahun 2016 bukanlah Tahun Reformasi ataupun Tahun Renovasi. Artinya, kalaupun harus bersih-bersih, sapu yang digunakan untuk bersih-bersih, ya harus sapu yang bersih dan bukan sapu yang kotor," tandas konsultan Komunikasi Publik (POKJA) Bakamla RI ini.
 
Penulis buku "MIGAS THE UNTOLD STORY" terbitan Gramedia Pustaka Utama ini juga menjelaskan, rakyat Indonesia harus mendukung dan sekaligus mencari pemimpin seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama atau para pemimpin lain yang berani melawan arus kebiasan dan tradisi buruk. Bangsa Indonesia harus berani mencari para pemimpin yang mampu memberikan rasa malu pada dirinya sendiri. Ancaman-ancaman yang terjadi dan diungkapkan oleh para tokoh nasional adalah sebenarnya menunjukkan ketidakmampuan bangsa ini menjaga kedaulatan, martabat dan kehormatan dirinya sendiri.
 
"Tidak ada ancaman bangsa asing kecuali keluar dari kekhawatiran dan ketakutan karena tidak mampu mengurus diri sendiri. Isu adanya ancaman Papua serta Aceh melepaskan diri dari Indonesia bukan soal negara asing, tetapi persoalan bangsa Indonesia dan para pemimpinnya. Novel Max Havelaar tentang perbudakan di Lebak, Banten oleh penguasa lokal pribumi, yang ditulis Eduard Douwes Deker pada tahun 1860 ternyata tidak terhapus dari sejarah tetapi sekarang semakin menjadi-jadi dan bahkan merata di seluruh Indonesia," ujar editor buku maritim "TAHUN 1511-Limaratus Tahun Kemudian", yang ditulis bersama 30 wartawan seluruh Indonesia dan terbit pada 2011.
 
Diurai lebih dalam, dalam menulis novel itu, Douwes Dekker menggunakan nama samaran Multatuli-aku yang banyak menderita. Sehingga merefleksi dari Max Havelaar hingga kasus "papa minta saham", ia mempertanyakan masa depan bangsa, apakah bangsa Indonesia dalam usia kemerdekaan ke70 tahun kedua akan muncul multatuli-multatuli lain yang mengisahkan tentang perbudakan para penyelenggara dan akan dibaca oleh generasi 70 tahun mendatang? [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya