. Keberadaan Partai Golkar dari waktu ke waktu semakin terpuruk. Bermula dari hasil Pemilu 2014 yang menempatkan Golkar hanya sebagai pemenang kedua sesudah PDIP dan di DPR kursi Golkar hanya 91 suara.
Lebih memprihatinkan, meskipun Golkar pemenang kedua tapi Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (ARB) gagal menjadi Capres bahkan tidak laku sebagai Wapres sekalipun. Kondisi kisruh yang melanda internal Golkar inilah yang mendorong ajang perpecahan yang melahirkan dua pengurus, yaitu DPP Golkar hasil Munas Bali dan DPP Golkar hasil Munas Ancol. Kedua pengurus DPP itu dilahirkan pada akhir 2014.
Kasus yang paling menohok adalah perilaku tidak etis Setya Novanto sebagai Ketua DPR yang mengundurkan diri, tapi malah dilindungi ARB menjadi Ketua Fraksi.
"Rentetan kisruh itu yang membuat Golkar pelan-pelan mati terbunuh oleh petingginya sendiri. Jadi Golkar itu mati pelan-pelan bukan karena faktor eksternal, namun kesemuanya karena faktor internal," kata politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang kepada redaksi, Senin (28/12).
Bintang yang juga Ketua Kordinator Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (EO-TKG) menegaskan, kepemimpinan yang terpusat di satu tangan, yaitu di tangan ARB membuat Golkar menjadi partai yang defensif, anti demokrasi dan berwatak menang-menangan.
Model kepemimpinan yang menganut demokrasi semu terus diperagakan ARB, dengan "mengunci" kesetiaan palsu 34 DPD Propinsi. Semua keputusan Golkar memang melalui forum Rapimnas sebagai pengambil keputusan tertinggi di bawah Munas. Tapi masyarakat luas tahu, kalau Rapimnas yang jadi sumber legitimasi itu adalah forum yang telah direkayasa.
"Rekayasa melalui forum paguyuban DPD Propinsi yang diisi loyalis ARB yang dibentuk ARB guna melanggengkan kekuasaannya," tandas Bintang.
Dengan kondisi internal Golkar yang berjalan dengan pola
one men show itu, membuat Golkar dari hari ke hari kehilangan legitimasi di masyarakat. Lihat saja hasil Pilkada serentak 2015 yang menyedihkan itu.
"Banyak kader Golkar jadi pemenang Pilkada justeru tidak menggunakan Golkar. Banyak yang lewat jalur independen," imbuh Bintang sambil menunjuk Rita Widyasari, Bupati Kutai Kertanegara menang mutlak di daerahnya sebagai petahana tanpa memakai Partai Golkar, padahal Rita dan ayahnya Syaukani, dikenal sebagi tokoh Golkar.
Di Sulawesi Selatan keluarga Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel dan Ketua DPD Golkar Sulsel) memenangi Pilkada tanpa menggunakan kendaraan Golkar. "Pesan saya kepada semua kader Golkar sejati supaya bangkit menyelamatkan Golkar," ungkapnya.
Menurut pandangan Bintang, sangat mustahil sengketa internal Golkar dapat diselesaikan oleh petinggi yang sedang bertikai.
Kedua petinggi itu sudah seharusnya malu dan harus mengakui kegagalannya.
"Tapi jangan harap mereka rela memberikan begitu saja kekuasan itu kepada calon penggantinya," tegas Bintang.
[rus]