Berita

Letjen (Purn) Sutiyoso:net

Wawancara

WAWANCARA

Letjen (Purn) Sutiyoso: Potensi Gerakan Teroris Makin Sempit, Tapi Propaganda Ideologinya Lebih Luas

SENIN, 28 DESEMBER 2015 | 09:11 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Memang sejumlah ancaman teror bom yang ditujukan pada hari Natal 25 Desember lalu tidak terbukti, namun bukan berarti rencana teroris menggelar 'konser' pada akhir tahun batal.

Berikut ini pemaparan Kepala BIN Letjen (Purn) Sutiyoso terkait kemungkinan ancaman teror;

Sebenarnya seberapa se­rius sih ancaman terorisme jelang natal dan tahun baru kali ini?
Begini, rangkaian ancaman aksi terorisme yang terjadi se­lama 2015, telah mengindikasi­kan masih eksisnya jaringan kelompok terorisme, terutama jaringan kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpi­nan Abu Santoso di Poso, serta simpatisan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia. Maka untuk mengantisipasi potensi ancaman keamanan menjelang peringatan Hari Natal 2015, dan perayaan Tahun Baru 2016, BIN bersama seluruh Komunitas Intelijen Negara, baik Komite Intelijen Pusat (Kominpus) dan Komite Intelijen Daerah (Kominda) te­lah meningkatkan fungsi deteksi dini (early detection), koordi­nasi, komunikasi, sinergisasi dan sinkronisasi penyelenggaraan sistem keamanan nasional.

Begini, rangkaian ancaman aksi terorisme yang terjadi se­lama 2015, telah mengindikasi­kan masih eksisnya jaringan kelompok terorisme, terutama jaringan kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpi­nan Abu Santoso di Poso, serta simpatisan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia. Maka untuk mengantisipasi potensi ancaman keamanan menjelang peringatan Hari Natal 2015, dan perayaan Tahun Baru 2016, BIN bersama seluruh Komunitas Intelijen Negara, baik Komite Intelijen Pusat (Kominpus) dan Komite Intelijen Daerah (Kominda) te­lah meningkatkan fungsi deteksi dini (early detection), koordi­nasi, komunikasi, sinergisasi dan sinkronisasi penyelenggaraan sistem keamanan nasional.

Mereka (teroris) sebelum­nya sempat dilaporkan sudah rakit bom untuk konser besar di Hari Natal. Tapi ancaman itu tidak terbukti. Apa yang dilakukan BIN?
Semua aktivitas kelompok teroris secara intensif telah dimonitor oleh petugas inteli­jen, dan penyelenggara sistem keamanan nasional, seperti BNPT, Polri dan TNI. Sehingga, setiap informasi adanya pergera­kan jaringan kelompok teroris di setiap daerah dalam pengawasan Kominda dan Kominpus.

Apa saja pergerakan teror­isme yang berhasil terpantau oleh BIN?
Situasi nasional menjelang peringatan Hari Natal 2015, dan perayaan Tahun Baru 2016 masih relatif kondusif. Namun demikian, perlu adanya kewas­padaan terhadap setiap potensi ancaman keamanan, terutama di setiap fasilitas umum (public fa­cility), akses moda transportasi, tempat-tempat ibadah, daerah rawan konflik dan wilayah per­batasan.

Bagaimana pergerakan kel­ompok terorisme saat ini?
Saat ini, pergerakan kelompok terorisme di Indonesia cend­erung lebih mengoptimalkan akses jejaring sosial media untuk menyebarkan ideologi, propa­ganda dan rekrutmennya. Hal ini, mengingat ketatnya fungsi monitoring dan pengamanan wilayah yang dilakukan seluruh penyelenggara sistem keamanan nasional, serta sistem inteli­jen negara. Sehingga, secara geografis, potensi pergerakan ancaman terorisme semakin sempit, namun propaganda ideologinya secara potensial lebih luas karena memanfaatkan akses media sosial.

Sejauh ini, jejaring teror­isme terkonsentrasi di daerah mana saja?
Kelompok radikal MIT dibawah Abu Santoso masih terkonsentrasi secara terbatas di wilayah Poso. Selain itu, masih terdapat jaringan simpatisan kelompok radikal ISIS yang terkonsentasi di wilayah Jakarta, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur

Apakah ada daerah-daerah tertentu yang sudah positif menjadi sasaran teroris dan perlu dijauhi oleh masyarakat, khususnya jelang perayaan Tahun Baru?

Yang perlu diwaspadai dan di­antisipasi bersama adalah anca­man keamanan terhadap fasilitas umum, fasilitas transportasi, ser­ta tempat-tempat ibadah selama momentum penyelenggaraan perayaan Hari Natal 2015 dan Tahun Baru 2016.

Bagaimana konsolidasi yang dilakukan BIN dengan pihak terkait selama ini?
Secara periodik, BIN melaku­kan koordinasi dan komunikasi bersama seluruh penyeleng­gara intelijen dalam Komunitas Intelijen Negara, baik Komite Intelijen Pusat (Kominpus) dan Komite Intelijen Daerah (Kominda) untuk meningkatkan fungsi deteksi dini (early detec­tion) dan sinkronisasi dengan penyelenggara sistem keamanan nasional, baik badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri dan TNI.

Apa ada kendala yang dih­adapi BIN dalam mengungkap terorisme sejauh ini?

Pertama, kendala pember­antasan terorisme adalah kuat­nya pengaruh ideologi yang tidak mudah diberantas sampai ke akarnya (fundamentalism). Kedua, jaringan kelompok tero­ris bergerak secara klandestine. Ketiga, pemanfaatan akses jejar­ing sosial media untuk melaku­kan penyebaran ideologi dan rekrutmen.

Pemerintah baru-baru ini menggandeng Australia untuk kerja sama di bidang intelijen, bisa diceritakan bagaimana pola kerja samanya?
Kerja sama intelijen antar dinas intelijen tentu bertujuan untuk membangun fungsi komu­nikasi dan koordinasi, khusus­nya dalam rangka kerja sama pemberantasan ancaman teror­isme global di wilayah kedua negara.

Tapi sudah beberapa kali Australia lancang menyadap pejabat tinggi negara kita. Masak intelijen kita masih percaya saja pada Australia?

Hubungan kerja sama bilat­eral dan komunikasi diplomatik politik antara Indonesia dan Australia tetap terjaga dengan baik, hal ini karena kedua negara saling membutuhkan dalam ber­bagai bidang strategis, misal­nya ekonomi, pendidikan dan keamanan perbatasan. Di samp­ing itu Australia dan Indonesia sudah ada komitmen untuk tidak saling menyadap. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya